Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
TREN penggunaan AI di kalangan mahasiswa menjadi hal yang lumrah pada kancah universitas. AI dinilai sangat membantu mahasiswa dalam mengerjakan berbagai tugas baik akademik maupun non akademik. Berbagai fitur yang disediakan memiliki informasi yang lengkap.
Tak jarang fitur tersebut bahkan memberikan jawaban yang akurat terhadap pertanyaan yang diberikan. Hal ini yang juga merupakan salah satu faktor penyebab AI menjadi pilihan utama mahasiswa. Namun, di sisi lainnya AI memiliki dampak yang cukup buruk bagi mahasiswa. AI dapat menyebabkan ‘ketergantungan’ yang mengakibatkan lemahnya kemampuan berpikir otak.
Jika dibiarkan, AI akan merusak kehidupan mahasiswa di masa depan. Maka dari itu, tulisan ini mencoba untuk menjabarkan dampak AI dalam kehidupan mahasiswa dengan terlebih dahulu memaparkan tentang AI secara umum di kehidupan manusia.
Bernard Marr dalam bukunya Artificial Inteligence In Practice mendefinisikan AI sebagai kemampuan pada sistem komputer dalam melakukan perilaku cerdas yang didasari pada data. AI menggunakan data untuk memproses hingga memperoleh hasil.
Seiring berjalannya waktu, AI terus mengalami perkembangan. Di tahun 2025, AI telah di upgrade secara besar-besaran. Fitur yang tersedia telah menyajikan segala sesuatu yang berhubungan dengan kebutuhan manusia.
Tidak hanya berkaitan dengan informasi, AI yang dikembangkan juga mampu mengubah wajah orang secara riil. Kenyataan ini mengindikasikan bahwa kemajuan kecerdasan buatan hampir setara dan bahkan akan melampaui pikiran manusia. AI dalam konteks ini dapat dilihat sebagai sesuatu yang tak terbatas atau to apeiron dalam bahasanya Anaximander, seorang Filsuf Yunani Klasik.
Pemahaman umum tentang AI di atas sejatinya berhubungan dengan kebaikan manusia. AI merupakan salah satu sarana yang sangat membantu manusia. Melalui kemudahan yang ada, AI berdaya guna dalam pekerjaan sehari-hari.
Kehadiran AI memungkinkan manusia memperoleh informasi yang aktual dalam skala yang tak terbatas. Berkenaan dengan hal ini, dunia pendidikan menjadi salah satu tempat yang menekankan pentingnya sebuah informasi. Melalui informasi itulah, seorang pelajar memperoleh pemahaman yang mumpuni tentang apa pun yang berkaitan dengan kehidupannya. Mahasiswa merupakan salah satu penggiat aktif yang terjun ke dalam ranah ini.
Pada level pendidikan, universitas menduduki puncak tertinggi. Level ini tidak hanya berpusat pada status, melainkan juga kepada kualitas yang dimiliki. Mahasiswa, ungkapan bagi seorang pelajar di jenjang ini turut memberikan sumbangsih terhadap nilai dari universitas.
Dalam tataran ini, seorang mahasiswa tengah mengalami situasi ‘gowerfenhit’ (keterlemparan) dari pendidikan di sekolah menengah. Kenyataan ini mengakibatkan tuntutan yang jauh lebih besar. Tuntutan ini berupa kemampuan untuk memiliki curiosity (rasa ingin tahu). Pada tahap ini, ia akan mencari informasi sebanyak-banyaknya untuk memperoleh data yang cukup dalam pergulatan pembelajarannya. Salah satu hal yang dapat dilakukan oleh mahasiswa adalah dengan menggunakan AI.
Mahasiswa di era ini memiliki kemampuan yang cakap dalam menggunakan teknologi. Meskipun AI telah hadir dengan cara penggunaan yang sedikit rumit, mahasiswa mampu beradaptasi dan memanfaatkannya. Ditinjau dari penelitian yang dilakukan oleh Eka Wahyudinarti dan kawan-kawan dalam jurnal mahasiswa teknik informatika tentang penggunaan AI tahun 2022, sebagian mahasiswa telah menggunakan AI untuk kepentingan akademis.
Hemat penulis data ini sekaligus menyetujui peran positif dari kehadiran AI. Pertama, melalui berbagai aplikasi yang dikembangkan seperti chat GPT, cici, dan sebagainya, mahasiswa mampu memperoleh informasi yang cukup berkenaan dengan tugas dan tanggung jawabnya.
Informasi yang ditampilkan pun tidak hanya sebatas jawaban, tetapi lebih dari itu termuat penjelasan yang runtut tentang sebuah masalah. Jika masih mengalami kesulitan dalam memahami teori yang ada, AI menawarkan solusi yang lebih baik dengan menampilkan video pembelajaran. Video ini dapat diakses secara gratis dengan hanya bermodalkan koneksi internet.
Kedua, kehadiran AI juga menghemat biaya mahasiswa. Pencarian informasi dalam jenjang ini secara tidak langsung mewajibkan mahasiswa untuk membeli buku. Banyaknya mata kuliah yang dianut boleh jadi mengikis keuangan mahasiswa karena berkaitan dengan jumlah buku yang harus dimiliki.
Pada taraf ini, AI berfungsi. Melalui AI, mahasiswa tidak perlu mengeluarkan biaya untuk membeli buku. Apalagi AI kini dilengkapi dengan buku digital. Data yang ditampilkan akurat dan tidak melenceng jauh dari buku biasa. AI juga menampilkan jurnal-jurnal terpercaya yang dapat diakses secara gratis menggunakan aplikasi Google Scholar.
Selain itu, AI mampu mengurangi penggunaan uang untuk mengikuti bimbingan secara intensif dengan guru privat. Hal ini tampak nyata dalam pengerjaan tugas akhir mahasiswa (skripsi, tesis, dan sebagainya).
Ketiga, AI sebagai penghibur. Informasi yang ditampilkan dalam AI tidak bersifat kaku. AI bahkan bisa berkomunikasi secara langsung dengan menggunakan bentuk apa pun yang diinginkan.
Visualisasi ini mampu memberikan perasaan senang kepada mahasiswa yang mungkin mengalami stres akibat banyaknya tekanan dari universitas. Mahasiswa juga mampu mengekspresikan kondisi fisik maupun psikisnya tanpa takut di bully oleh orang lain.
Tindakan demikian membantu mahasiswa untuk meluapkan perasaannya dan menghindari insiden ‘bunuh diri’ yang akhir-akhir ini menjadi trending topik di negara ini.
Adapun dampak negatif yang ditimbulkan dari penggunaan AI di kalangan mahasiswa. Pertama, AI menyebabkan ketergantungan. Konteks ini terjadi karena dalam mindset mahasiswa, semuanya telah ada.
Kalimat ’aku klik, maka aku ada’ tertanam erat dalam diri mereka. Nilai juang untuk mencari dan terus mencari suatu informasi sirna dengan sendirinya. Kenyataan ini menjadi salah satu penyebab dari tenggelamnya mahasiswa ke ranah hoax.
Fenomena yang terjadi adalah penerimaan informasi secara langsung tanpa didasari dengan pencarian lanjutan akan kebenaran dari informasi yang ada. Akibatnya daya kreatif yang tersimpan dalam otak manusia untuk menjadi seorang penemu dihilangkan secara sadar.
Kedua, AI menyebabkan fenomena brain rot. Dilansir dari website halodoc yang mengutip pemikiran para pakar di Oxford, Brain rot merupakan penurunan daya otak karena penerimaan informasi (konten online) secara berlebihan.
Penggunaan AI untuk mencari informasi yang tidak mengandung edukasi dapat memicu terjadinya peristiwa ini. Hal ini sering kali terjadi ketika mahasiswa sedang mengalami kejenuhan. Akibatnya waktu yang seharusnya digunakan untuk melakukan kegiatan produktif diabaikan. Mahasiswa mengecilkan volume otaknya yang sejatinya mampu memberikan pemikiran-pemikiran cerdas bagi perkembangannya.
Ketiga, AI menyebabkan masalah sosial. AI dengan komunikasinya yang serba online menghilangkan sarana bagi mahasiswa untuk melaksanakan interaksi secara langsung. Komunikasi seperti ini yang menyebabkan masalah dalam kehidupan bermasyarakat.
Komunikasi sejatinya terjadi secara langsung. Hakikat komunikasi ini telah dinyatakan oleh seorang sosiolog keturunan Yahudi, George Simmel. Baginya, masyarakat terbentuk dari interaksi tatap muka antara individu yang satu dengan individu lainnya.
Ketika menggunakan AI seseorang berinteraksi dengan layar yang statusnya adalah benda mati. Tindakan seperti ini mengakibatkan dirinya menjauhi masyarakat riil dan hal ini dapat berdampak pada kebutuhan sosial. Besar kemungkinan seorang mahasiswa tidak akan ditolong kendati mengalami persoalan kecil sekalipun. Tahta sosialnya tidak diakui.
Berdasarkan uraian tentang dampak positif dan negatif dari penggunaan AI di atas, penulis merasa AI begitu berpengaruh terhadap kehidupan mahasiswa. Ditinjau dari keunggulannya, AI mampu memberikan informasi yang dibutuhkan mahasiswa secara mudah.
Namun di sisi lain, hal ini dapat merusak kemampuan mahasiswa dalam berpikir secara kritis dan sistematis. AI tidak dapat dihilangkan dan bahkan akan mengalami perubahan yang jauh lebih dari saat ini. Maka dari itu, dibutuhkan sikap ‘disiplin’ dalam menggunakan AI. Disiplin diri merupakan kunci dari kesuksesan.
Selain itu, mahasiswa juga harus menumbuhkan kembali nilai kedua dari Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Nilai ini mengingatkan mahasiswa untuk menjadikan manusia sebagaimana dirinya berada, bukan sebagai robot yang tidak mengenal hati. Akhir kata, “Jadilah penguasa atas AI bukan hamba yang dikuasai”. (*)
