Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
OVOP, kita tahu, adalah salah satu program andalan Gubernur NTT saat ini, Emanuel Melkiades Laka Lena. Tujuannya, antara lain, untuk mengentaskan kemiskinan di NTT, termasuk membumihanguskan stunting, kondisi kurang gizi akut dan kronis sekaligus, di NTT.
Saat ini, jumlah penduduk miskin di NTT, menurut data BPS per Maret 2025, adalah 1,09 juta orang. Itu setara dengan 18,60% jumlah Pendidikan NTT, yaitu 5.656.039 jiwa, per Agustus, 2024.
Untuk Indonesia, hasil survei status gizi Indonesia, angka prevalensi stunting 2024 19,80%. Di NTT, 33,10%. Itu mahatinggi. Artinya, ketika para pejabat kita, termasuk presiden dan para gubernur, dan kaum berduit, keluar-masuk restoran (sangat) mahal dengan riang gembira, pada saat yang sama, banyak anak kita, karena kemiskinannya, tidak mendapat makanan secukupnya.
Akibatnya, mereka menderita kekekurangan gizi. Akut dan kronis sekaligus seperti saya bilang di atas.
Karena itu, kita paham, mengapa Gubernur NTT menelurkan program seperti OVOP itu. Itu singkatan dari bahasa Inggris: One Village, One Product. Artinya, Satu Desa, Satu Produk.
Secara literal, menurut kamus bahasa, makna OVOP jelas. Tidak ada makna konotatif di situ. Dengan demikian, jika makna denotatif itu yang dipahami, maaf, Pak Gubernur NTT, OVOP itu, menurut saya, membingungkan.
