Namun, kalau akhirnya gagal dan pulang tanpa nyawa, seperti yang terjadi selama ini di NTT, sebaiknya janganlah keluar negeri. Berdasarkan data Badan Pelanggan Pekerja Migran Indonesia NTT, sejak Januari hingga 2 September 2025, ada 96 calon dan pekerja migran Indonesia asal NTT wafat di luar negeri.

Untuk apa ke sana, kalau hanya untuk pergi ke dunia akhirat akhirnya? Selama ini, di NTT yang gersang itu banyak juga orang yang berhasil tanpa keluar negeri, bukan?

Jadi, OVOP, saya takut, salah. Yang benar ini: biarkan rakyat bermimpi sesuai dengan potensinya; bantu mereka menemukan impiannya; dan, secara tulus, bantu mereka membuat mimpinya menjadi nyata dengan, misalnya, menyiapkan kredit usaha secukupnya.

Namun sebagai rakyat yang bijak, kita perlu dengar Gubernur tentang apa, sejatinya, makna OVOP itu. Itu menurut saya. Menurut Anda? (*)