Itu Desa Watu Galang dengan berbagai produknya. Lalu, bagaimana program OVOP berterima di desa itu? Satu desa satu produk? Pertanyaan yang sama, saya kira, juga berlaku untuk semua desa lainnya di NTT yang, seperti Watu Galang, juga berproduk melimpah dan banyak di antaranya unggul.

Tugas Gubernur NTT dan stafnya, saya kira, yang akan menjawab persoalan itu. Namun, sambil menanti penjelasan pemerintah soal OVOP tersebut, kepada pemerintah, saya sarankan beberapa hal berikut. Pertama, kiranya, lupakan OVOP sejenak. Atau selamanya juga baik. Kedua, biarkan setiap rakyat secara umum, pemuda secara khusus, menjalani hidupnya sesuai dengan “passion-“nya.

Yang saya maksudkan dengan passion itu adalah sesuatu yang dengan tekun, giat, total, dan tulus dilakukan seseorang dalam hidupnya. Passion itu terjadi karena yang dilakukan sesuai dengan bakat/talenta, minat, kebutuhannya. Juga sesuai dengan imajinasi atau mimpi atau cita-citanya.

Ketiga, dalam tautan dengan kedua saran itu, pemerintah, mulai dari presiden hingga kepala desa di setiap sudut Indonesia secara umum, NTT secara khusus, kiranya berusaha secara sungguh-sungguh membantu setiap rakyatnya menemukan bakat/talenta, minat, kebutuhannya, dan imajinasi atau mimpi atau cita-citanya yang, nantinya, menjadi passion-nya ketika dia berusaha secara total, all out, konsisten, untuk membuat mimpinya menjadi nyata.