Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Penelitian oleh Damanik & Aldridge (2021) mengungkapkan bahwa keberhasilan implementasi kurikulum sangat tergantung pada gaya kepemimpinan kepala sekolah. Gaya transformasional, yang menekankan pada inspirasi, partisipasi, dan inovasi, terbukti lebih berhasil dalam mendorong pembelajaran kolaboratif dan partisipasi aktif guru serta siswa.
3. Kepemimpinan dalam Konteks Kesenjangan Wilayah dan Budaya Lokal
Reformasi pendidikan yang bersifat sentralistik sering kali tidak menyentuh realitas lokal, terutama di wilayah timur Indonesia seperti NTT, Maluku, dan Papua. Dalam konteks ini, kepemimpinan yang berakar pada budaya lokal dan kontekstual menjadi kunci.
Kepala sekolah yang memahami kearifan lokal, seperti nilai “Mone Ama” di Sabu, “Hus Nde’o” di Rote, atau “Gotong Royong” di Jawa, dapat membangun sekolah yang inklusif, partisipatif, dan relevan dengan kehidupan masyarakat. Studi Yuwono (2022) di sekolah-sekolah adat di Flores menunjukkan bahwa pemimpin yang menghormati nilai budaya lokal mampu membangun iklim sekolah yang sehat dan meningkatkan keterlibatan orang tua.
Lebih jauh, kepemimpinan berbasis konteks lokal juga mendorong pendekatan culturally responsive leadership (Khalifa et al., 2016) yang menempatkan pemimpin sebagai jembatan antara kebijakan nasional dan praktik lokal.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan