Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Risiko ekologi tak kalah genting. TTS berada di wilayah semi-kering dengan curah hujan pendek. Deforestasi, degradasi lahan, dan pola tanam yang tidak berkelanjutan membuat tanah semakin tandus. Perubahan iklim memperburuk keadaan, menyebabkan musim tanam tak menentu dan kerap gagal panen. Ketahanan pangan lokal, yang seharusnya menjadi jaring pengaman, justru semakin rapuh.
Risiko politik menjadi lapisan terakhir yang memperberat semua persoalan. Pembangunan kerap tersandera oleh logika kontestasi kekuasaan. Program penanggulangan kemiskinan seringkali tidak tepat sasaran, lebih berfungsi sebagai alat politik daripada solusi jangka panjang. Warga miskin pun terjebak menjadi objek, bukan subjek, dalam siklus kebijakan.
Keempat risiko ini bukan berdiri sendiri, melainkan saling memperkuat. Ekonomi yang rapuh memicu kerentanan sosial; ekologi yang rusak memperbesar risiko ekonomi; politik yang tak berpihak membiarkan lingkaran ini terus berputar. Inilah wajah kemiskinan struktural di TTS: kemiskinan yang sekaligus melahirkan kekerasan gender, generasi putus sekolah, dan ketergantungan jangka panjang.
Namun, peta risiko ini tidak harus dibaca sebagai takdir. Justru di sinilah peluang lahir: menjadikannya kompas pembangunan. Risiko ekonomi dapat diatasi dengan inovasi pertanian berbasis iklim kering, diversifikasi sumber penghasilan, dan keterhubungan dengan pasar. Risiko sosial menuntut layanan dasar yang inklusif, dari sekolah hingga puskesmas, serta perlindungan nyata terhadap perempuan dan anak.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan