Direktur LSM Barakat, Benediktus Pureklolong, menegaskan bahwa Muro adalah solusi nyata menghadapi tantangan seperti perubahan iklim.

Konservasi paling efektif adalah yang lahir dan dijaga oleh komunitas itu sendiri. Festival ini adalah jembatan antara pengetahuan adat dan kebijakan modern,” ujarnya.

Rangkaian Acara Utama Festival Muro 2025:

Iklan
  • Seremonial Adat: Pembukaan Muro oleh tetua adat, menegaskan kesakralan laut sebagai ruang hidup.
  • Pemanfaatan Lestari: Pengambilan hasil laut secara lestari di zona yang dibuka sebagai simbol panen.
  • Pentas Budaya: Teater ‘Laut untuk Anak Cucu’ dan Tarian Sole Oha khas Lamaholot sebagai ungkapan syukur.
  • Dialog dan Komitmen Bersama: Diskusi makna Muro dan pernyataan dukungan perlindungan pesisir berbasis adat.

Festival ini diharapkan menjadi tonggak penting pengakuan hukum adat dan inspirasi bagi pengelolaan wilayah pesisir di seluruh Nusa Tenggara Timur. (*/rnc)