Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
PADA tanggal 14 Juli, 2025, ada sesuatu yang baru di Indonesia. Pada hari itu, di 100 lokasi, dari Sabang sampai Merauke, tahap awal kegiatan belajar dan pembelajaran Sekolah Rakyat (SR), dimulai secara serempak. Rinciannya, di Jawa ada 48 SR, Sumatra 22, Silawesi 15, Bali dan NTB serta NTT 4, Kalimantan 4, Maluku 4, dan Papua 3. Ada 395 rombongan belajar atau 9.755 murid pada level SD, SMP, dan SMA. Mereka diajar oleh 1.554 guru dengan 3.390 staf administratif di gedung milik Kementerian Sosial di seluruh Indonesia (Stefanus Arandito, Kompas, 29 Juni, 2025). Bagi yang belum tahu apa itu sekolah rakyat, penjelasan berikut perlu.
SR, gagasan Presiden Prabowo Subianto, adalah sekolah untuk anak-anak dari keluarga miskin (Desil 1) dan yang sangat miskin (Desil 2) sesuai dengan data tunggal sosial ekonomi nasional (DTSEN). Tujuannya, menurut Teddy Indra Wijaya, Sekretaris Kabinet, dalam tulisan Stefanus Arandito di Kompas yang saya sebut di atas, untuk membantu anak-anak dari keluarga tersebut ”lebih sehat, lebih mendapatkan pendidikan yang bermutu, lebih aman, lebih terlindung, dan lebih sejahtera.“ Karena itu, di SR segalanya disiapkan oleh pemerintah pusat, misalnya, ruang kelas dengan fasilitas yang memadai. Juga ada lapangan olahraga.
Menurut Stefanus Arandito, dalam artikel yang sama di Kompas itu, gelombang kedua yang terdiri dari 424 rombel atau 10.600 murid segera menyusul. Mereka menggunakan balai latihan kerja milik Kementerian Ketenagakerjaan di seluruh Indonesia.
Pendidiknya 2.180 guru; 4.069 staf administrasi 4.069. Anak-anak tinggal di asrama milik Kemensos; satu kamar empat murid; dan fasilitas setiap kamar disiapkan oleh pemerintah. Ruang makan di asrama dioperasikan oleh Badan Gizi Nasional. Stefanus Arandito menambahkan, orangtua para murid, yang rata-rata penghasilan bulanannya satu sampai dua juta rupiah dari sektor informal, diikutsertakan dalam berbagai program pemberdayaan oleh berbagai kementerian. Rumah mereka, yang tidak cocok untuk dihuni, direnovasi. Diperbaiki sedemikian rupa sehingga menjadi layak huni.
Pada titik ini, saya kira, kita patut mengancungkan jempol untuk Presiden atas ide cerdasnya – Juga untuk Wapres Gibran Rakabuming Raka; mereka dwitunggal, bukan? – Sebab, via SR itu, seruan UUD 1945 (Pasal 34, Ayat 1), ”Orang miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara,” kini terjawab sudah.
Bahwa sebelumnya ada bantuan sosial iya, tetapi itu, menurut saya, masih amat sangat jauh dari cukup. Demikian juga dengan penyiapan makan siang bergizi gratis. Itu juga belum cukup. Sebab orang miskin dan anak-anak terlantar tidak hanya perlu makan siang gratis; mereka juga butuh makan pagi dan malam; mereka juga mau kudapan pagi dan sore.
Dalam tautan dengan itu, SR menjadi sebuah jawaban yang sangat pas atas perintah UUD 1945. Walaupun demikian, kita tidak boleh berhenti di sini: mengucapkan selamat datang kepada SR dan/atau mengancungkan jempol atasnya. Tidak. Tidak boleh sama sekali. Sebab masih ada yang perlu dikritisi, yaitu, antara lain, kurikulum SR dan proses untuk mencapai tujuannya. Ini penting sebab, sejatinya, sudah banyak sekolah, termasuk perguruan tinggi, yang sudah dibangun dan sedang beroperasi di negeri ini. Sudah banyak. Bahkan sudah banyak sekali.
Namun, apa yang kita hasilkan? Betul, sebagai bangsa haruslah kita tetap optimistis. Banyak hal positif yang sudah dihasilkan. Kita menjadi salah satu negara paling demokratis di dunia ini kini. Ketiga terbesar setelah India dan AS. Kita juga sudah masuk jajaran upper middle income countries, walaupun pada level jauh di dasar, dengan pendapatan per kapita sekitar 5000 dolar AS per tahun; kita juga relatif aman. Relatif damai. Toleransi cukup bagus, walaupun mungkin bukan yang terbagus.
Itu, sayangnya, salah satu sisinya. Di sisi lain, dari berbagai sekolah yang sudah dibangun itu, yang kita hasilkan tidak selalu yang terbaik. Sebab dari situ lahir juga ribuan koruptor dari berbagai latar belakang pendidikan dan pekerjaan, termasuk, misalnya, para pengusaha, birokrat, politisi, wakil rakyat dan masih banyak lagi.
Anda sebut saja! Juga dari situ lahir kriminal/teroris; lahir orang yang begitu malas sehingga hidupnya tetap saja miskin walaupun sudah sekolah bertahun-tahun; juga lahir dari situ orang-orang yang begitu rajin dan menjadi kaya raya, tetapi amat sangat egoistis. Hidup hanya untuk diri sendiri seperti yang digambarkan secara sangat pas oleh Sungging Raga, seorang sastrawan, dalam cerpennya yang berjudul, “Nalea: Tidurlah Nalea. Esok kita abadi” (Kompas, 18 September, 2026, hlm. 22).
Dari SR, kita, tentu, tidak mengharapkan ada output/outcome seperti itu. Kita mau SR lain: dia menghasilkan tamatan yang berdampak positif bagi bangsa ini. Apapun itu. Persoalannya adalah bagaimana caranya supaya SR berdampak positif untuk bangsa ini, untuk membawanya keluar dari kemiskinan, termasuk stunting, keluar dari kungkungan korupsi dan kriminalitas, kemalasan, intoleransi, egoisme yang berlebihan, dan dari berbagai persoalan lainnya.
Caranya, sejatinya, gampang. Gampang sekali malah. Biarkan anak-anak di SR itu belajar sesuai dengan bakat, minat, dan kebutuhan belajarnya (Feliks Tans, Kompas, 28 Desember, 2011, hlm. 7). Kurikulum, yaitu apa yang mereka harus pelajari di sekolah, harus setali tiga uang dengan bakat, minat, dan kebutuhan belajar mereka. Untuk itu, yang perlu guru lakukan adalah berdialog dengan setiap murid untuk mengetahui bakat/talenta, minat dan kebutuhan belajarnya. Begitu bakat, minat dan kebutuhan belajarnya sudah diketahui, biarkanlah mereka berimaginasi. Bermimpi. Mimpi apa? Memimpikan masa depannya yang luar biasa; apapun itu.
Tugas kita, guru, orangtua, hanya ini: membantu para murid itu, anak-anak kita, sangat percaya pada kemampuan dirinya (otosugesti), yaitu bahwa mereka bisa membuat mimpinya menjadi nyata dengan belajar lebih total dari hari ke hari. Dari minggu ke minggu.
Dari bulan ke bulan. Dari tahun ke tahun. Itu, tentu, bisa dilakukan, bila mereka belajar dan diajar sesuai dengan bakat, minat dan kebutuhan belajarnya itu. Itu saja. Selain itu tidak. Titik.
Jadi, jangan seperti sekarang, di sekolah, semua anak kita belajar begitu banyak mata pelajaran yang tidak semuanya relevan dengan bakat/talenta, minat, dan kebutuhan belajarnya. Akibatnya muncul hal-hal negatif yang disebutkan di atas. Semoga SR tidak. (*)





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan