Fatmawati juga menyampaikan bahwa jumlah nasabah Bank Sampah Mapoli terus meningkat seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat.

“Awalnya hanya sekitar 100 nasabah, kini sudah lebih dari 200. Sampah seperti plastik, kertas, dan logam sudah dipilah dari rumah masing-masing sebelum disetor ke bank sampah. Bagi yang belum memahami cara memilah, kami terus memberikan edukasi,” jelasnya.

Menurutnya, bank sampah Mapoli menerima sampah dari masyarakat setiap hari Jumat, dengan volume bervariasi antara 2 kilogram hingga belasan kilogram, baik dari rumah tangga maupun pihak luar.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya bersama dalam mendorong pola hidup ramah lingkungan serta membangun ekonomi sirkular berbasis masyarakat di Nusa Tenggara Timur.

Terpisah, Ketua Komunitas Eko Enzim NTT, Chairel Malelak, S.P., M.Si., menjelaskan, tujuan dilaksanakan kunjungan tersebut untuk mempelajari proses pengelolaan dan pemanfaatan sampah organik yang bernilai ekonomis.

“Rencana ke depan komunitas Eko Enzim NTT akan membentuk bank sampah Timor untuk mengelola sampah dalam rangka pengurangan sampah di Kabupaten TTU dan bisa memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat,” jelas Chairel.

Jenis kategori sampah yang bisa disetor ke bank sampah seperi sampah plastik, kertas dan sampah logam. (rnc)