Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Di NTT, misalnya, banyak sekolah masih berhadapan dengan keterbatasan fasilitas, tenaga pendidik, dan tantangan geografis. Namun, dari konteks inilah nilai-nilai seperti solidaritas komunitas, spiritualitas Kristen, dan filosofi lokal seperti Mone Ama dapat menjadi fondasi karakter pendidikan yang sejati dan otentik (Mbuik, 2025). Karakter pendidikan yang sehat bukan hanya berbicara soal kurikulum dan modul, melainkan tentang keteladanan hidup, keberanian bersikap adil, dan kepedulian yang otentik pada murid.
Penutup: Pendidikan Karakter Dimulai dari Karakter Pendidikan Itu Sendiri
Jika sistem pendidikan hanya mengajarkan karakter, tanpa menjadi karakter itu sendiri, maka pendidikan itu akan kehilangan daya ubahnya. Pembentukan karakter sejati tidak bisa dibebankan kepada siswa saja. Ia adalah tanggung jawab kolektif semua elemen pendidikan: mulai dari guru, kepala sekolah, birokrat, hingga kebijakan di tingkat pusat.
Pendidikan karakter akan terus menjadi ilusi jika karakter pendidikan tidak pulih. Maka, yang perlu kita bangun bukan hanya pendidikan yang mengajarkan karakter, melainkan pendidikan yang memiliki karakter jujur, adil, melayani, dan manusiawi.
Kutipan Penutup
“Pendidikan karakter adalah ilusi jika karakter pendidikan itu sendiri korup.” (Heryon Bernard Mbuik). (*)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan