Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Mengatasi “brain rot“ itu penting untuk mengeluarkan para pecandu media sosial itu dari pengaruh negatifnya yang, selama ini, begitu kuat sehingga mereka seperti hidup enggan, namun matipun tidak. Melalui penyelamatan itu, mereka diharapkan kembali menjadi manusia yang kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif dengan karakter yang baik. Ini bukan hanya untuk kebaikannya sendiri, tetapi juga, pada saatnya, untuk kebaikan lingkungan sosial dan fisiknya. Kini, di sini, hari ini, esok, kapanpun, dan di manapun.
Banyak cara, sejatinya, bisa dilakukan untuk mengatasi “brain rot“ itu. Di beberapa negara bagian di Amerika Serikat (AS), misalnya, anak-anak usia sekolah dilarang menggunakan ponsel. Di Australia, berdasarkan keputusan parlemennya tanggal 29 November, 2024, anak-anak yang belum berumur 16 tahun dilarang memiliki akun media sosial (Luki Aulia, Kompas.id, 3 Desember, 2024).
Di Indonesia, hal-hal berikut disulkan untuk mengatasi “brain rot“ itu: 1. penggunaan HP dibatasi hingga dua minggu; 2. anak-anak dengan usia tertentu dilarang menggunakan HP; 3. generasi digital perlu dibekali secara sedemikian rupa agar tetap fokus, kritis dan berkarakter kuat; 4. menciptakan kegiatan mengajar yang lebih menarik sehingga anak-anak lebih memilih mengikuti kegiatan mengajar gurunya daripada menggunakan media sosial; dan, 5. dalam kaitan dengan usulan No. 4 itu, perlu adanya “transformasi pedagogis, bukan sekadar digitalisasi“ (dalam Ratna Sri Widyaastuti, Satrio Pangarso Wisanggeni, dan Sri Rejeki, Kompas.id, 3 Juli, 2025).

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan