Pendahuluan: Luka yang Dibuka Kembali

Perpecahan adalah bagian dari sejarah gereja. Namun, ketika perpecahan itu sengaja disiram dengan bensin stigma, luka sejarah justru semakin terbuka. Baru-baru ini, pernyataan kontroversial seorang pemuka agama Katolik, Romo Patris Allegro, kembali memantik bara di tengah tubuh Kristus. Beliau menyebut bahwa:

  • Protestan lebih berbahaya dari Islam,
  • Protestan adalah serigala berbulu domba,
  • Protestan itu anti-Kristus,
  • Protestan adalah sistem yang harus diberantas,
  • Dan menyatakan bahwa Kristen adalah ateis berbungkus Alkitab.

Sebagai teolog Kristen, saya merasa perlu memberi tanggapan secara akademis dan teologis atas pernyataan ini. Tanggapan ini bukan ditujukan untuk memperpanjang konflik denominasi, melainkan sebagai panggilan moral dan spiritual agar gereja kembali kepada pangkuan kasih Kristus yang mempersatukan, bukan memecah.

1. Tubuh Kristus: Satu dan Tak Terbagi

Rasul Paulus dalam 1 Korintus 1:10-13 dengan jelas menegur perpecahan yang terjadi di antara jemaat:
“Aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seiya sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu.” (1 Korintus 1:10)

Paulus tidak menyangkal adanya perbedaan, tetapi ia menolak dengan keras sektarianisme. Ketika ada yang berkata “Aku dari golongan Paulus, aku dari golongan Apolos,” Paulus menegur: “Adakah Kristus terbagi-bagi?” (1 Korintus 1:13).

Di hadapan pernyataan yang menganggap Protestan sebagai musuh yang harus diberantas, kita diingatkan kembali pada pesan Paulus bahwa gereja adalah satu tubuh. Perbedaan denominasi adalah konsekuensi sejarah, tetapi menyebut saudara seiman sebagai “serigala berbulu domba” atau bahkan “anti-Kristus” adalah tindakan yang mencederai tubuh Kristus itu sendiri.

Yesus dalam Yohanes 17:21 berdoa, “Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau.” Doa ini adalah dasar ekumenisme. Kristus tidak memohon agar gereja menjadi seragam, tetapi agar gereja tetap bersatu dalam kasih, meski ada perbedaan tradisi.

2. Protestanisme dalam Sejarah: Bukan Anti-Kristus, Melainkan Reformator Gereja

Sejarah Reformasi Protestan tidak lahir dari kebencian terhadap gereja Katolik, melainkan sebagai upaya profetis untuk memurnikan gereja dari penyimpangan. Martin Luther pada tahun 1517 memakukan 95 dalil di pintu gereja Wittenberg bukan untuk memecah belah gereja, tetapi untuk mengingatkan gereja akan kembali pada Injil yang murni: “Sola Scriptura, Sola Fide, Sola Gratia.”

Reformasi terjadi sebagai respons terhadap praktik penjualan indulgensi dan berbagai penyimpangan yang merusak integritas gereja saat itu. Apakah ini berarti Luther adalah anti-Kristus? Jelas tidak.

Menurut Yohanes 4:2-3, anti-Kristus adalah mereka yang “tidak mengaku bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia.” Jika Protestan mengakui Kristus sebagai Tuhan, menghidupi firman, dan memberitakan Injil, bagaimana mungkin mereka disebut anti-Kristus?

Karl Barth, teolog Protestan abad ke-20, dalam karyanya Church Dogmatics menegaskan bahwa gereja Protestan tetap berdiri di atas fondasi pengakuan iman kepada Kristus. Bahkan Vatican II dalam dokumen Unitatis Redintegratio (1964) mengakui bahwa saudara-saudara Protestan tetap bagian dari tubuh Kristus, walau berada di luar komunio penuh dengan gereja Katolik.

3. Ekumenisme: Jalan Damai dalam Tubuh Kristus

Zaman sudah berubah. Dialog ekumenis adalah panggilan zaman modern. Gereja Katolik melalui Konsili Vatikan II membuka pintu lebar-lebar untuk berdialog dengan Protestan dan Ortodoks. Paus Yohanes Paulus II dalam ensiklik Ut Unum Sint (1995) dengan tegas menyatakan kerinduan akan persatuan umat Kristiani di seluruh dunia.

Pernyataan bahwa Protestan adalah sistem yang harus “diberantas” adalah pernyataan yang mundur jauh dari semangat ekumenisme. Ini adalah retorika berbahaya yang seharusnya ditinggalkan. Gereja-gereja Protestan dan Katolik di berbagai tempat telah bekerja sama dalam pelayanan sosial, pendidikan, bahkan advokasi keadilan.

Sebagai contoh, di Indonesia, persekutuan gereja-gereja (PGI dan KWI) telah berjalan bersama dalam banyak forum. Mengapa ada oknum yang justru menghidupkan kembali konflik lama dengan narasi kebencian?

Teologi inkarnasi mengajarkan bahwa Allah menjadi manusia untuk menyelamatkan, bukan untuk mengutuk. Kristus datang bukan untuk menciptakan permusuhan antarumat, tetapi untuk memperdamaikan yang berseteru (Efesus 2:14-16).

4. Bahaya Teologi Kebencian: Melawan Esensi Injil

Menyebut orang Kristen sebagai “ateis berbungkus Alkitab” adalah tuduhan yang serius sekaligus tidak berdasar. Dalam tradisi teologi, ateisme adalah penolakan terhadap eksistensi Allah. Bagaimana mungkin umat yang menyembah Allah Tritunggal, menjunjung tinggi Kitab Suci, dan hidup dalam ibadah disebut ateis?

Yesus mengajarkan dalam Matius 5:22, “Barangsiapa berkata kepada saudaranya: Kafir! Maka ia wajib masuk neraka yang menyala-nyala.” Ini bukan soal perbedaan pendapat, melainkan soal bagaimana kita menjaga hati dan lidah.

Bahaya teologi kebencian adalah ketika orang mulai mengklaim dirinya paling benar dan menyebut yang lain sebagai musuh Allah. Padahal, dalam 1 Yohanes 4:20 dikatakan, “Jika seseorang berkata: Aku mengasihi Allah, dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta.”
Jika kita tidak bisa mengasihi saudara seiman yang berbeda denominasi, bagaimana kita bisa mengaku mengasihi Allah?

5. Menuju Rekonsiliasi dan Teologi Kasih

Kita tidak bisa menghapus sejarah Reformasi dan Kontra-Reformasi. Luka masa lalu itu nyata. Namun, sebagai gereja masa kini, kita dipanggil untuk mempraktikkan theologia crucis teologi salib yang tidak berpusat pada kekuasaan dan eksklusivitas, melainkan pada kerendahan hati, pengorbanan, dan rekonsiliasi.

Dietrich Bonhoeffer dalam bukunya Life Together menulis:
“Gereja yang saling memandang sebagai musuh adalah gereja yang telah melupakan Kristus di tengah-tengah mereka.”
Tugas gereja hari ini bukan memperuncing perbedaan, tetapi mencari ruang bersama untuk menyatakan kasih Allah kepada dunia yang semakin retak oleh kebencian.

Protestan dan Katolik memiliki sejarah panjang yang penuh luka. Namun kita juga punya peluang untuk menorehkan sejarah baru: sejarah dialog, pengampunan, dan kerja sama. Dunia membutuhkan gereja yang bersatu dalam kasih, bukan gereja yang saling menyerang dengan tuduhan dan stigmatisasi.

Penutup: Teguran dalam Kasih

Sebagai seorang Protestan, saya tidak merasa perlu membalas dengan kebencian. Saya memilih berdiri pada kasih Kristus yang memanggil kita semua untuk menjadi satu di dalam-Nya.

Kepada Romo Patris Allegro, izinkan saya mengingatkan dengan penuh hormat: Mari kita hentikan retorika yang membelah tubuh Kristus. Jangan lagi menyiram luka lama dengan garam baru. Dunia sudah cukup lelah dengan kebencian agama. Ingatlah kata-kata Yesus dalam Yohanes 13:35:
“Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”
Kiranya kita semua, Katolik maupun Protestan, bisa kembali kepada kasih itu kasih yang mempersatukan, bukan memecah. (*)

Daftar Referensi
• Barth, K. (1956). Church Dogmatics Vol. I. T&T Clark.
• Bonhoeffer, D. (1954). Life Together. Harper & Row.
• Konsili Vatikan II. (1964). Unitatis Redintegratio.
• Yohanes Paulus II. (1995). Ut Unum Sint. Libreria Editrice Vaticana.
• Brown, R. (1997). Introduction to the New Testament Christology. Paulist Press.