Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Dalam konteks ini, pertanyaan penting muncul: bagaimana menjaga ruh dan nilai-nilai kemanusiaan dalam desain, ketika sebagian besar prosesnya telah dimediasi oleh sistem digital? Saya percaya, teknologi seharusnya membantu arsitek menajamkan imajinasi, bukan mengaturnya.
Alih-alih menggantikan intuisi, sistem digital perlu dijadikan alat untuk memperkaya proses berpikir desain. Misalnya, AI bisa digunakan untuk menghasilkan opsi bentuk, tetapi keputusan akhir tetap harus lahir dari penilaian kritis arsitek yang memahami konteks sosial, iklim, budaya, dan nilai-nilai yang diusung klien maupun masyarakat.
Pendidikan Arsitektur: Kritis terhadap Digitalisasi
Perubahan ini juga menantang dunia pendidikan arsitektur. Banyak mahasiswa kini lebih fasih dalam menggunakan software daripada memahami prinsip dasar arsitektur seperti proporsi, hierarki ruang, atau narasi spasial. Mereka lebih terpukau oleh efek visual ketimbang pengalaman manusia dalam ruang.
Saya mengusulkan agar kurikulum pendidikan arsitektur di Indonesia perlu mengadopsi pendekatan kritis terhadap digitalisasi. Artinya, bukan hanya mengajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga cara memaknainya. Literasi digital bukan sekadar kemampuan teknis, tetapi juga mencakup kesadaran etis dan budaya tentang bagaimana teknologi membentuk cara kita melihat dunia dan mendesainnya.




WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan