Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Rencana pengembangan K-SIGN ini terdiri dari 10 zona yang dibagi berdasarkan kondisi topografi dan morfologi Kabupaten Rote Ndao. Pembangunan akan dilakukan bertahap yakni tahap 1 seluas 1.193 Ha (2025), tahap 2 seluas 9.541 Ha (2026) dan tahap 3 seluas 3.135 Ha (2027).
Untuk produksi, ditargetkan dapat memproduksi garam 200 ton per hektar per tahun. Secara keseluruhan volume produksi targetnya 2,6 juta ton per tahun dengan nilai produksi Rp 2,6 triliun per tahun.
“Pembangunan (tahap 1) tahun ini (2025) harusnya selesai sehingga awal 2026 harus sudah produksi,” kata Trenggono optimis.
Tidak hanya ditargetkan dapat mencapai swasembada garam nasional, tambak garam terbesar ini juga diharapkan bisa menciptakan potensi lapangan pekerjaan bagi puluhan ribu orang, dari hulu hingga hilir.
Program K-SiGN ini juga akan menggandeng PT. Garam yang berfungsi di hilir dalam memproduksi garam industri, di antaranya industri aneka kebutuhan pangan, industri farmasi dan industri Chlor Alkali Plant (CAP).
“Kan di situ ada nanti processing untuk industri aneka pangan, processing untuk industri farmasi, ada processing untuk CAP, PT. Garam harus berperan ke sana. Di sisi lain juga nanti kita serahkan yang dibangun pemerintah tentu tidak bisa sebagai pelaku,” imbuhnya.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan