Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Tepi Barat, RakyatNTT.ID – Serangan brutal terjadi di desa mayoritas Kristen Kafr Malik, dekat Ramallah, ketika pemukim Yahudi Israel menyerang permukiman warga Palestina, menewaskan tiga orang dan melukai tujuh lainnya. Peristiwa ini menjadi bagian dari gelombang kekerasan terbaru yang memanfaatkan kekacauan akibat perang di Gaza dan ketegangan dengan Iran.
Menurut sumber dari Otoritas Palestina, ketiga korban tewas bukan hanya akibat serangan para pemukim, namun juga tembakan dari tentara Israel. Rekaman dari lokasi memperlihatkan rumah dan kendaraan dibakar, serta pasukan IDF yang tidak bertindak menghentikan serangan.
Dalam insiden terpisah di Al-Yamoun, seorang anak laki-laki berusia 15 tahun ditembak mati oleh tentara Israel di tengah bentrokan harian antara pemukim dan warga di desa Taybeh.
“Kami hidup di bawah tembakan terus-menerus dari para pemukim dan tentara pendudukan Israel,” kata Pastor Bashar Fawadleh, pastor paroki desa Taybeh, desa Kristen Palestina terakhir yang seluruh penduduknya beragama Kristen.
Menurut Pastor Bashar, para pemukim menyerang bundaran Karamelo, di pintu masuk timur desa, dan serangan itu terjadi bersamaan dengan serangan di Kafr Malik. Ia menambahkan bahwa lebih dari 100 pemukim terlibat, berdasarkan data dari kelompok hak asasi manusia Israel, Yesh Din.
“Ini bukan kejadian baru. Kekerasan seperti ini sudah terjadi sebelum 7 Oktober 2023,” jelas sang pastor. Ia menegaskan bahwa umat Kristen di desa tersebut tidak akan meninggalkan tanah kelahiran mereka meski terus diintimidasi.
Dalam pernyataannya, IDF mengklaim mereka membalas tembakan dari dalam desa, namun bukti video memperlihatkan warga sipil Palestina yang tidak bersenjata menjadi sasaran tembakan.
Kelompok hak asasi Yesh Din menuduh tentara Israel membiarkan pemukim bertindak semena-mena dan menyebutnya sebagai bentuk “pembersihan etnis”. Beberapa pemukim telah ditangkap, namun kekhawatiran tetap tinggi karena impunitas dan dukungan politik dari tokoh-tokoh pro-pendudukan seperti Itamar Ben-Gvir.
Sementara itu, kepala kepolisian Tepi Barat saat ini tengah diselidiki karena dinilai membiarkan kekerasan ini terjadi demi menyenangkan pejabat radikal. (*/rnc)





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan