Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Ketika roh duniawi seperti egoisme, kemarahan, dan kesombongan meresap dalam keluarga, maka roh perpecahan akan mudah masuk dan menghancurkan relasi yang mestinya kudus dan harmonis.
Dalam teks 1 Korintus 3, Paulus menyebut jemaat yang masih hidup menurut kedagingan sebagai “anak-anak dalam Kristus”, artinya belum dewasa secara rohani. Keluarga Kristen yang ingin menjadi “anti pecah” harus berjuang untuk meninggalkan cara hidup duniawi dan menumbuhkan kehidupan rohani yang kuat. Thomas à Kempis, dalam bukunya The Imitation of Christ, menyatakan, “Where there is no inward peace, there can be no outward unity.” Maka, kesatuan keluarga tidak bisa dibangun hanya dengan aturan atau struktur, tetapi melalui kehidupan rohani yang dibentuk dalam Kristus.
Tiga Pilar Keluarga Anti Pecah:
1. Wariskan Pola Hidup Rohani
Keluarga Kristen dipanggil bukan hanya untuk hidup baik, tetapi hidup kudus. Pola hidup rohani harus diwariskan bukan dalam bentuk formalitas, tetapi melalui teladan dan relasi. Seperti dikatakan oleh teolog Jonathan Edwards, “Family education and order are some of the chief means of grace.” Pendidikan rohani dalam keluarga bukanlah program, tetapi napas hidup sehari-hari—mulai dari doa bersama, membaca Firman, hingga hidup dalam pengampunan dan kerendahan hati. Anak-anak yang bertumbuh dalam atmosfer seperti ini akan memiliki daya tahan rohani terhadap perpecahan.




WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan