Yaya mengaku, untuk mendapatkan kenikmatan rasa, sambal yang dia produksi diproses empat kali. “Prosesnya berbulan untuk mendapatkan kualitas dan rasa sambal yang nikmat. Terima kasih atas masukan dan saran teman-teman chef. Dan tak lupa kepada Bapak Fransiscus Go yang telah membimbing dan mengarah saya, sehingga usaha ‘Sambal Asett’ bisa berkembang. Saya tidak percaya beliau mengunjungi dapur produksi kami yang jauh di pelosok desa. Terima kasih banyak pak,” ungkap Yaya.

“Sambal Asett” bukan satu-satunya usaha yang dilakoni Yaya. Profesi perawat menempatkannya sebagai Tenaga Kesehatan Desa. Saking viralnya mengelola “Sambal Asett”, Pemkab Timor Tengah Selatan memintanya menjadi narasumber untuk beberapa kegiatan. “Karena disupport Bapak Fransiscus Go, ‘Sambal Asett’ kini dipasarkan di Shopee, Tik Tok, Facebook, Tokopedia, sampai negara Timor Leste. dan Tokopedia. Bahkan ada kiriman video dari Turki,” sebut Yaya.

Bagaimana dengan bahan baku? Yaya menjelaskan, cumi-cumi dibeli dari Kupang. Sedang ikan Cakalang, selain dibeli dari Kupang, juga di SoE. “Kalau cabe dipasok kaka Peter Salem dan juga petani milenial. Saya menggagas ‘dapur hijau’ supaya suplai cabe bisa terus ada. Dan, ‘apotik hidup’ untuk ketahanan pangan bergizi. Jadi semua bahan baku aman. Dan saya dibantu dua karyawan,” tambah Yaya.