Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
oleh: Robert Kadang
Kedengarannya mungkin paradoks. Tapi, itulah fakta sejarah berdirinya Gereja Toraja di Kupang. Warga Gereja Toraja Jemaat Kupang kini boleh berlega ria, setelah “marathon” menggelar tahapan demi tahapan, pagelaran tradisi budaya Toraja dalam rangka penahbisan gereja. Menguras tenaga, pikiran dan money. Namun, indah pada saatnya. Prasasti Gereja Toraja Jemaat Kupang, resmi ditanda-tangani Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena. Klik, ko mangka melo to..!
Kehadiran Gereja Toraja Jemaat Kupang yang digadang-gadang sebagai simbol toleransi di Kota Kupang, tidaklah berlebihan. Pasalnya, menjadi ikon di perantauan. Di Bumi Flobamora, tungka sangan na. Tapi.., Pdt. Alfred Anggui, selaku ketua Badan Pekerja Sinode (BPS) Gereja Toraja, dalam sambutannya sempat “terusik” dengan judul bulletin “Sangtorayan” (edisi khusus) desaign beta. “Tunas yang Tumbuh pada Batu Bertanah. Apa tidak salah nih?” gumannya balik bertanya.
Judul itu menggelitik. Dan, Pdt. Alfred kritis meresponnya. Sebagai jurnalis, beta senang jika ada respek pembaca. Kurre pak pendeta, yang paham benar kondisi topografi di Kota Kupang. Hampir semua bangunan dibangun di atas batu bertanah. Beda di Sulawesi. Rumah-rumah dibangun di atas tanah berbatu. Clear ya..!
Berikut ini petikan sambutan Pdt. Alfred Anggui;
Saat ini, berdasarkan data terakhir, Gereja Toraja telah memiliki 1.191 jemaat yang telah didewasakan. Dari jumlah itu, ada lebih dari 300 tempat kebaktian yang tersebar di 17 provinsi dan dua negara. Pelayanan ini dilakukan oleh 1.017 pendeta aktif, dengan komposisi 517 perempuan dan 500 laki-laki. Ini menunjukkan semakin banyaknya perempuan yang berperan dalam pelayanan gereja.
“Kami bersyukur karena Gereja Toraja terus bertumbuh dalam kasih karunia Tuhan. Yang paling utama adalah, bagaimana gereja ini, khususnya yang hadir di Kota Kupang, dapat menjadi berkat bagi masyarakat sekitar. Bapak gubernur dan hadirin sekalian, orang Toraja dikenal dengan loyalitas yang tinggi. Contohnya Kepala Kejaksaan Tinggi NTT, bapak Zet Tadung Allo, sahabat kami dan saat ini menjadi ketua panitia kegiatan ini. Kami sering menyebut beliau sebagai sosok profesional yang rendah hati, tenang, dan mudah diajak bekerja sama,” ujar Pdt. Alfred Anggui.
“Kami bersyukur atas bangunan gereja ini yang mengusung model arsitektur Tongkonan, bukan hanya sebagai identitas budaya, tapi juga memiliki makna teologis dan filosofis yang dalam. Sama seperti gereja-gereja Toraja lainnya di Surabaya dan Jakarta, desain ini menjadi simbol bahwa gereja adalah rumah bagi keluarga Allah. Tempat kita bukan hanya datang untuk salaman dan pulang, tetapi bertemu sebagai keluarga. Saling menguatkan, dan menjadi berkat bagi sesama,” tandasnya.
Tak lupa, Pdt. Alfred Anggui menitip pesan, agar mari terus menjadi warga gereja yang baik, hidup berdampingan dengan damai, dan saling menopang dalam pelayanan bersama seluruh gereja di Kota Kupang. Kami merasa berbahagia, telah menjadi bagian dari warga NTT dan terus berharap, warga Toraja di Kupang maupun di seluruh NTT, dapat terus berkontribusi secara positif dalam pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat. (*)





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan