Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
MENGAPA orang Timor sering kali merasa minder atau kurang percaya diri? Pertanyaan ini kerap muncul dalam percakapan sehari-hari, terutama ketika kita berhadapan dengan dunia luar yang serba cepat dan penuh kompetisi. Banyak yang menilai bahwa orang Timor identik dengan sifat pemalu, enggan tampil, atau takut berbicara di ruang publik. Namun, benarkah minder adalah “watak” bawaan orang Timor?
Faktanya, rasa minder yang dialami sebagian masyarakat Timor tidak lahir dari kekosongan. Ia terbentuk dari sejarah panjang, kondisi sosial-ekonomi, serta budaya yang diwariskan turun-temurun. Sejarah kolonialisme, penindasan, hingga konflik membuat orang Timor terbiasa berada di posisi “yang dikuasai”(Cultural atlas, 2022). Identitas ini pelan-pelan meresap ke dalam kesadaran kolektif: bahwa kita sering dianggap “kurang” (kurang maju, kurang modern, kurang setara).
Budaya malu yang kuat dalam masyarakat Atoni Meto dan suku-suku lain di Timor juga berperan penting. Nilai ini sejatinya mulia: menumbuhkan rasa hormat, menjaga harmoni, dan menghindarkan konflik. Tetapi, dalam praktik sosial, budaya malu sering berubah menjadi hambatan untuk tampil percaya diri. Anak-anak diajarkan untuk tunduk dan menahan diri, sehingga terbiasa merasa salah ketika berbicara di depan orang banyak.



WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan