Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
DI Pulau Semau, pulau yang meranggas penuh debu saban kemarau, negara hendak menancapkan patung besar sebagai ikon wisata rohani. Anggaran Rp30 miliar digelontorkan dari kantong APBD.
Terdengar mulia memang. Iman dirayakan, daerah dipromosikan, dan pariwisata dijanjikan. Namun, dengan anggaran fantastis itu, nalar sehat publik seketika tersedak. Rakyat dapat apa? Siapa sebenarnya yang sedang dimuliakan di sini? Tuhan, umat, atau ego kekuasaan yang haus panggung?
Pertanyaan-pertanyaan ini penting. Bukan karena kita benci pada agama. Sama sekali tidak. Justru karena agama terlalu luhur, ia tidak boleh dibiarkan menjadi tameng bagi keputusan politik. Saya selalu percaya, patung tidak pernah lahir dari ruang hampa. Ia lahir dari keputusan politik, meja anggaran, dan dari syahwat penguasa yang gemar memoles citra publik.
Masalahnya bukan patung. Bukan Yesus. Bukan pula iman umat. Masalahnya adalah logika negara dibalik patung itu. Negara selalu gesit kalau membangun simbol. Negara selalu bersemangat kalau ada proyek yang bisa difoto dari udara. Ada seremoni. Ada pidato. Ada baliho. Ada tepuk tangan. Ada prasasti.
Tetapi begitu ditanya soal air bersih, jalan rusak, puskesmas, sekolah, petani rumput laut, dan dapur warga, negara mendadak seperti kehilangan bahasa.




WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan