Kupang, RakyatNTT.ID – Pembangunan rumah Tuhan bukan sekadar mendirikan sebuah bangunan fisik. Lebih dari itu, pembangunan gereja menjadi wujud kerinduan iman yang dibangun melalui persatuan, pengorbanan, doa, dan komitmen bersama.

Semangat tersebut mewarnai ibadah peletakan batu pertama pembangunan gedung Gereja Bethel Indonesia (GBI) Kasih Anugrah (LGC Church) Kota Kupang, yang berlangsung di Kelurahan Fatukoa, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, Jumat (30/10/2026).

Peletakan batu pertama tersebut menjadi penanda dimulainya pembangunan gedung gereja yang diharapkan tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pertumbuhan iman, pembinaan rohani, persekutuan, serta pelayanan sosial bagi jemaat dan masyarakat luas.

Kegiatan diawali dengan ibadah bersama yang dilayani Ketua Badan Pekerja Daerah (BPD) GBI Nusa Tenggara Timur (NTT), Pdt. Oder Max Sombu.

Hadir dalam kegiatan tersebut Asisten I Sekretariat Daerah Kota Kupang, Hengky Malelak, S.STP., M.Si., yang mewakili Wali Kota Kupang; Sekretaris BPD GBI NTT, Pdt. Daniel Gie, M.Th.; Ketua Badan Pekerja Wilayah (BPW) GBI Kota Kupang, Pdt. Welhemus Radja, M.Th.; Gembala Sidang GBI Kasih Anugrah, Ps. Petrus Yulius Ridho, S.Th.; Pdt. Kirenius Bole, S.Th., M.Pd., anggota Majelis Pertimbangan Lembaga (MPL) GBI NTT; serta jajaran pengurus BPD GBI NTT.

Turut hadir para hamba Tuhan, tokoh jemaat, tokoh masyarakat, panitia pembangunan, para donatur, seluruh jemaat GBI Kasih Anugrah, dan tamu undangan lainnya.

Berawal dari Kerinduan dan Pergumulan Iman

Ketua Panitia Pembangunan, Yesua Koro, dalam laporannya menyampaikan bahwa pembangunan gedung gereja berawal dari kerinduan dan pergumulan iman yang kemudian diwujudkan melalui komitmen bersama seluruh jemaat.

Menurutnya, membangun rumah Tuhan tidak semata-mata berbicara tentang kemampuan finansial maupun kemegahan bangunan. Pembangunan merupakan bentuk tanggung jawab dan keterlibatan umat sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Keterlibatan tersebut dapat diwujudkan melalui doa, tenaga, pikiran, waktu, maupun persembahan.

Ia mengakui bahwa perjalanan pembangunan tentu tidak terlepas dari berbagai tantangan dan keterbatasan. Namun, kondisi tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti melangkah.

Sebaliknya, semangat kebersamaan dan sikap saling menopang harus menjadi kekuatan bagi seluruh jemaat untuk melewati setiap tantangan.

“Batu pertama yang kita letakkan hari ini bukan sekadar simbol dimulainya pembangunan sebuah gedung, tetapi menjadi simbol iman, pengorbanan, dan komitmen bersama. Sebab, gereja yang kokoh tidak hanya dibangun dengan batu dan semen, tetapi juga dengan iman yang teguh, kasih yang tulus, serta persatuan umat Tuhan,” tegas Yesua.

Panitia juga menyampaikan apresiasi kepada Gembala Sidang, pimpinan BPD dan BPW GBI, Pemerintah Kota Kupang, para hamba Tuhan, tokoh jemaat, seluruh jemaat, para donatur, serta semua pihak yang telah mendukung pembangunan gedung gereja tersebut.

GBI NTT Tekankan Gereja Dibangun dengan Iman

Ketua BPD GBI NTT, Pdt. Oder Max Sombu, dalam pemberitaan firman Tuhan mengajak jemaat memaknai pembangunan rumah Tuhan bukan hanya sebagai pekerjaan fisik, tetapi sebagai bagian dari panggilan iman dan tanggung jawab pelayanan.

Jemaat diajak untuk terus membangun kehidupan rohani yang kokoh, menjaga kesatuan, mempererat persaudaraan, serta menghadirkan kasih Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan tersebut menegaskan bahwa gereja tidak hanya diukur dari kemegahan bangunan fisiknya. Kualitas iman, kesaksian hidup, dan kontribusi dalam menghadirkan kasih serta kepedulian di tengah masyarakat menjadi bagian penting dari keberadaan gereja.

Pemkot Kupang: Mulai dengan Yakin, Selesaikan Bersama

Dukungan Pemerintah Kota Kupang terhadap pembangunan gedung GBI Kasih Anugrah disampaikan melalui sambutan Wali Kota Kupang yang diwakili Asisten I Setda Kota Kupang, Hengky Malelak.

Dalam sambutan tersebut, Pemerintah Kota Kupang menekankan pentingnya keyakinan untuk memulai sebuah pekerjaan serta semangat kebersamaan untuk menyelesaikannya.

Pesan “Mulai dengan Yakin, Selesaikan Bersama” menjadi penegasan bahwa cita-cita besar tidak cukup hanya dengan niat dan keberanian untuk memulai.

Dibutuhkan konsistensi, kolaborasi, dan keterlibatan semua pihak hingga tujuan tersebut dapat tercapai.

Kehadiran Pemerintah Kota Kupang dalam momentum tersebut sekaligus menjadi bentuk perhatian terhadap kehidupan keagamaan dan pentingnya menjaga hubungan harmonis antara pemerintah, lembaga keagamaan, dan masyarakat.

Pemerintah berharap pembangunan sarana peribadatan tersebut tidak hanya memberikan manfaat bagi jemaat, tetapi juga memperkuat kehidupan sosial, toleransi, persaudaraan, dan semangat kebersamaan dalam membangun Kota Kupang.

BPD GBI NTT Beri Dukungan

Sambutan Ketua BPD GBI NTT, Pdt. Oder Max Sombu, turut disampaikan melalui Sekretaris BPD GBI NTT, Pdt. Daniel Gie, M.Th.

Dalam sambutan tersebut, BPD GBI NTT memberikan perhatian terhadap dimulainya pembangunan gedung gereja sekaligus menekankan pentingnya menjaga kesatuan, kebersamaan, dan komitmen pelayanan dalam kehidupan bergereja.

Kehadiran Ketua BPW GBI Kota Kupang, Pdt. Welhemus Radja, M.Th., anggota MPL GBI NTT, serta jajaran pengurus BPD GBI NTT semakin menegaskan dukungan organisasi terhadap perjalanan pelayanan GBI Kasih Anugrah Kota Kupang.

Dukungan tersebut diharapkan semakin memperkuat semangat jemaat untuk bersama-sama melanjutkan proses pembangunan hingga selesai.

Gembala Ajak Jemaat Bergandengan Tangan

Gembala Sidang GBI Kasih Anugrah Kota Kupang, Ps. Petrus Yulius Ridho, S.Th., menyampaikan rasa syukur dan apresiasi kepada Pemerintah Kota Kupang, pimpinan BPD dan BPW GBI, para hamba Tuhan, panitia pembangunan, tokoh jemaat, seluruh jemaat, serta semua pihak yang telah memberikan dukungan.

Dukungan tersebut diberikan melalui doa, tenaga, pikiran, maupun berbagai bentuk kontribusi lainnya.

Ia berharap semangat kebersamaan yang telah terbangun dapat terus dipelihara hingga seluruh proses pembangunan gedung gereja rampung.

Menurutnya, pembangunan rumah Tuhan merupakan pekerjaan bersama yang membutuhkan ketulusan, pengorbanan, iman, dan komitmen seluruh umat.

Karena itu, seluruh jemaat diharapkan terus bergandengan tangan, saling menopang, dan mengambil bagian dalam setiap tahapan pembangunan.

Batu Pertama Resmi Diletakkan

Setelah seluruh rangkaian ibadah dan sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan prosesi peletakan batu pertama oleh perwakilan Pemerintah Kota Kupang, pimpinan BPD GBI NTT, pimpinan BPW GBI Kota Kupang, Gembala Sidang, serta perwakilan lainnya.

Prosesi tersebut menjadi penanda resmi dimulainya pembangunan gedung GBI Kasih Anugrah (LGC Church) Kota Kupang.

Momentum tersebut bukan sekadar pembangunan infrastruktur, melainkan pernyataan iman dan tekad bersama untuk menghadirkan rumah ibadah yang menjadi tempat pertumbuhan rohani, penguatan persaudaraan, serta pelayanan kepada sesama.

Keberhasilan pembangunan rumah Tuhan pada akhirnya tidak hanya diukur dari seberapa megah bangunan yang berdiri, tetapi juga dari seberapa kokoh iman yang bertumbuh, seberapa erat persaudaraan yang terjalin, dan seberapa besar kasih yang dihadirkan bagi sesama.

Sebab, membangun gereja adalah pekerjaan iman, tetapi menyelesaikannya membutuhkan persatuan dan tanggung jawab bersama.

Mulai dengan yakin, berjalan dalam iman, dan selesaikan bersama dalam kasih. (*/rnc)