Tambolaka, RakyatNTT.ID — Wakil Bupati Sumba Barat Daya (SBD), Nusa Tenggara Timur (NTT), Dominikus Alphawan Rangga Kaka atau Angga Kaka, menyebut kehadiran Sumba Furniture menjadi salah satu tanda tumbuhnya ekonomi baru di daerah tersebut.

Menurut Angga Kaka, usaha yang bergerak di bidang furnitur dan interior itu tidak hanya menyediakan kebutuhan masyarakat, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi anak-anak muda Sumba.

Hal itu disampaikan Angga Kaka usai mengikuti ibadah pemberkatan gedung Sumba Furniture di Ledegiring, Kecamatan Kota Tambolaka, SBD, Jumat (4/9/2026) malam.

Iklan

Angga Kaka mengatakan, Sumba Barat Daya kini semakin terbuka. Salah satu tandanya terlihat dari semakin banyaknya orang dari luar daerah yang datang dan membangun rumah di Sumba Barat Daya.

“Ini menjadi berkat bagi Kabupaten Sumba Barat Daya. Dulu kita mengenal kebun yang berpindah-pindah, tetapi sekarang pembangunan rumah juga semakin berkembang dan menyebar. Artinya, Sumba Barat Daya semakin terbuka,” kata Angga Kaka.

Menurut dia, keterbukaan tersebut membuat banyak orang dari Jakarta hingga luar Indonesia tertarik membangun rumah di Sumba Barat Daya.

Kondisi itu dinilai menjadi peluang bagi pengusaha lokal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama dalam bidang furnitur dan desain interior.

“Jadi banyak orang dari Jakarta, bahkan dari luar Indonesia, yang membangun rumah di Sumba Barat Daya. Ini menjadi peluang bagi usaha lokal seperti Sumba Furniture untuk berkembang,” ujarnya.

Angga Kaka juga mengapresiasi karena Sumba Furniture merupakan usaha yang dimiliki oleh orang Sumba.

Menurut dia, keberadaan usaha tersebut dapat menciptakan lapangan kerja sekaligus membuat uang yang berputar dari kegiatan usaha tetap memberikan manfaat bagi masyarakat di Sumba.

“Yang paling penting, usaha ini dimiliki orang Sumba. Kehadirannya menciptakan lapangan pekerjaan baru dan membuat perputaran ekonomi terjadi di Sumba,” kata Angga Kaka.

Ia berharap semakin banyak anak muda Sumba yang berani membangun usaha sendiri dan tidak hanya bergantung pada pekerjaan sebagai aparatur sipil negara (ASN).

Angga Kaka juga menilai Sumba Furniture memiliki peluang besar karena tidak hanya membuat furnitur, tetapi juga melayani desain interior sesuai keinginan pelanggan.

“Desain interiornya bisa dibuat sesuai pesanan. Mau model modern, minimalis, atau bahkan menggunakan sentuhan gaya Sumba, semuanya bisa disesuaikan dengan kebutuhan pemilik rumah,” ujarnya.

Menurut Angga Kaka, perkembangan usaha seperti Sumba Furniture dapat menjadi peluang bagi generasi muda untuk mendapatkan pekerjaan sekaligus mengembangkan keterampilan di daerah sendiri.

“Lapangan pekerjaan bisa tercipta di sini dan ini tentu berdampak bagi anak-anak muda. Apalagi usaha ini juga dibangun oleh anak muda Sumba,” katanya.

Sementara itu, Owner Sumba Furniture, Rooli Dunga, menceritakan awal dirinya membangun usaha tersebut.

Rooli mengatakan, ide membangun usaha muncul dari pengalaman pribadi setelah menyelesaikan kuliah. Saat itu, ia menghadapi kondisi sulit karena belum memiliki pekerjaan.

“Kami pernah mengalami masa setelah selesai kuliah, tetapi tidak punya pekerjaan. Saat itu kami berpikir, mau melakukan apa? Apakah harus menjadi PNS?” kata Rooli.

Namun, Rooli memilih jalan berbeda. Ia mengaku hingga sekarang tidak pernah mengikuti tes CPNS.

“Sampai sekarang saya tidak pernah mengikuti tes PNS satu kali pun,” ujarnya.

Rooli menjelaskan, Sumba Furniture mulai dirintis sejak 2013. Pada awalnya, usaha tersebut masih mengerjakan furnitur standar berbahan kayu untuk kebutuhan rumah tangga maupun kafe.

Seiring waktu, ia melihat peluang bisnis furnitur dan interior semakin terbuka sehingga mulai mengembangkan desain yang lebih modern dan minimalis.

Dalam perjalanan membangun usaha, Rooli mengaku sempat mengalami masa sulit karena belum menemukan pasar yang jelas.

“Di awal usaha, saya juga sempat tidak punya pekerjaan selama satu sampai dua tahun. Saat itu saya bingung mau membuat usaha apa dan bagaimana mencari pasarnya,” katanya.

Menurut Rooli, peluang mulai terlihat ketika ia melihat potensi bahan baku kayu di Sumba, termasuk kayu jati di wilayah Bukambero.

“Ketika melihat potensi di Bukambero, ada kayu jati. Dari situ kami mulai mengembangkan usaha furnitur. Apalagi akses ekspedisi dan pengiriman barang sudah semakin terbuka,” ujarnya.

Dalam menjalankan usaha, Rooli mengatakan Sumba Furniture membutuhkan tenaga kerja untuk berbagai bidang, mulai dari logistik, pemesanan, administrasi hingga tenaga tukang.

Untuk tenaga tukang, saat ini sebagian masih berasal dari Jawa karena membutuhkan keterampilan khusus.

Meski demikian, Rooli mengatakan pihaknya sedang berusaha melatih tenaga kerja lokal agar ke depan semakin banyak orang Sumba yang memiliki keterampilan di bidang furnitur dan interior.

“Saat ini tenaga tukang kami masih ada yang berasal dari Jawa. Tetapi kami sedang mendidik dan melatih orang-orang kita sendiri agar nantinya bisa memiliki keterampilan yang sama,” kata Rooli.

Menurut dia, penggunaan tenaga kerja dari luar daerah bukan berarti mengesampingkan tenaga lokal. Sebaliknya, hal tersebut menjadi bagian dari proses belajar dan transfer keterampilan.

“Untuk jangka panjang, saya melihatnya sebagai kolaborasi. Tenaga dari luar membantu kita, sementara orang-orang kita belajar dan nantinya bisa menguasai keterampilannya,” ujarnya.

Rooli mengatakan, keputusan untuk membangun Sumba Furniture berangkat dari keinginannya menciptakan pekerjaan setelah merasakan sendiri sulitnya mendapatkan lapangan kerja.

“Ketika kita pernah tidak punya pekerjaan dan melihat lapangan kerja juga terbatas, akhirnya kita berpikir, ya sudah, kita buat sendiri,” kata Rooli.

Menurut dia, usaha tersebut kemudian terus berkembang dari waktu ke waktu hingga kini melayani kebutuhan furnitur dan desain interior bagi rumah, kantor, kafe hingga hotel. (rnc29)