Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Surabaya, RakyatNTT.ID – Tim Pelaksana Survei Investigasi dan Desain (SID) Optimasi Lahan (Oplah) Universitas Nusa Cendana (Undana) resmi menyelesaikan target optimasi lahan seluas 5.416 hektare di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Capaian tersebut mencakup delapan kabupaten, yakni Kabupaten Kupang, Timor Tengah Utara (TTU), Timor Tengah Selatan (TTS), Belu, Manggarai, Manggarai Barat, Ngada, dan Nagekeo.
Seluruh target SID Oplah di NTT tersebut telah rampung dan kini memasuki tahap pemberkasan fisik sebagai bagian dari proses penyelesaian administrasi kegiatan.
Pelaksanaan teknis di lapangan dipimpin Wakil Rektor I Bidang Akademik Undana, Prof. Dr. drh. Annytha I R Detha, M.Si., selaku Ketua Tim.
Tim teknis juga diperkuat sejumlah akademisi dan pakar dari berbagai disiplin ilmu. Mereka antara lain Prof. Dr. Ir. Denik Sri Krisnayanti, S.T., M.T., IPU yang memiliki kepakaran di bidang sumber daya air; Dr. Ir. Remigildus Cornelis, S.T., M.T. di bidang pemetaan; Prof. Ir. Yosep Seran Mau, M.Sc., Ph.D. di bidang sosial ekonomi; serta Prof. Ir. Marthen Robinson Pellokila, MP., Ph.D. dengan kepakaran agroteknologi.
Capaian Undana Masuk Evaluasi Kementerian Pertanian
Penyelesaian target SID Oplah Undana menjadi salah satu agenda dalam rapat Koordinasi dan Evaluasi Kegiatan SID Cetak Sawah Rakyat dan Optimasi Lahan Tahun 2026 yang digelar Kementerian Pertanian melalui Direktorat Pemetaan Lahan dan Irigasi Pertanian.
Rapat tersebut berlangsung di Movenpick Hotel Surabaya, Rabu, 23 September 2026, dan dipimpin langsung Direktur Pemetaan Lahan dan Irigasi Pertanian, Dr. Andy Wijanarko, S.P., M.Si.
Dalam evaluasi tersebut, Kementerian Pertanian tidak hanya melihat capaian luas lahan yang telah disurvei dan didesain, tetapi juga menekankan pentingnya kualitas teknis hasil SID.
Secara nasional, target SID Oplah Tahun Anggaran 2026 mencapai 300.030 hektare. Dari target tersebut, luas yang telah dikontrakkan mencapai 288.131 hektare atau 96,03 persen, sedangkan luas SID yang telah rampung mencapai 256.402 hektare atau 88,99 persen.
Untuk NTT, target seluas 5.416 hektare telah diselesaikan secara keseluruhan atau mencapai 100 persen.
Kualitas Teknis jadi Perhatian
Capaian luasan tidak menjadi satu-satunya indikator keberhasilan. Kementerian Pertanian juga menekankan agar hasil SID benar-benar menggambarkan kondisi dan kebutuhan lahan di lapangan.
“Jangan sampai target luasan tercapai secara administrasi tetapi tidak memenuhi kriteria teknis. Kualitas lokasi lebih penting daripada sekadar mengejar luasan,” tegas Prof. Denik di sela kegiatan.
Menurut evaluasi tersebut, efektivitas program optimasi lahan sangat ditentukan oleh ketepatan investigasi sumber air serta identifikasi faktor pembatas lahan.
Sejumlah faktor yang perlu diperhatikan antara lain potensi kekeringan, kondisi drainase, erosi, sedimentasi, hingga kerusakan bangunan air.
Desain optimasi lahan juga diharapkan tidak dilakukan dengan pola yang seragam atau sekadar menyalin desain sebelumnya. Pengukuran di lapangan harus dilakukan secara akurat agar desain yang dihasilkan dapat mendukung peningkatan indeks pertanaman (IP) dan produktivitas petani.
Administrasi Swakelola Diperketat
Selain kualitas teknis, aspek administrasi pelaksanaan kegiatan juga menjadi perhatian dalam rapat evaluasi.
Setiap tim pelaksana SID Oplah diwajibkan memastikan seluruh dokumen pendukung kegiatan tersedia dan dapat diverifikasi. Dokumen tersebut meliputi berita acara bersama kelompok tani, logbook kegiatan, foto yang dilengkapi referensi geografis terkait sumber air dan bangunan, serta dokumen pertanggungjawaban anggaran sesuai Standar Biaya Masukan (SBM).
Kelengkapan dokumen tersebut menjadi bagian dari mitigasi untuk menghadapi proses audit maupun verifikasi lapangan.
Prinsip yang ditekankan dalam pengelolaan kegiatan SID Oplah 2026 adalah setiap pekerjaan harus terdokumentasi dan setiap dokumentasi harus dapat membuktikan bahwa pekerjaan tersebut benar-benar telah dilaksanakan.
Target SID Cetak Sawah Capai 169.925 Hektare
Dalam rapat yang sama, Kementerian Pertanian turut memaparkan perkembangan SID Cetak Sawah Rakyat.
Total luas pekerjaan yang telah dikontrakkan mencapai 169.925 hektare, yang tersebar dalam 38 paket pekerjaan di 22 provinsi.
Hingga September 2026, realisasi keuangan kegiatan cetak sawah tercatat sebesar 36,69 persen dari total pagu anggaran Rp205,88 miliar. Pemerintah menargetkan seluruh pekerjaan tersebut dapat dituntaskan pada Desember 2026.
Untuk mempercepat pelaksanaan, Kementerian Pertanian mendorong pemantauan kegiatan secara berkala, pelaksanaan survei lapangan secara paralel, percepatan kelengkapan dokumen keluaran setiap termin, serta penguatan koordinasi lintas sektor.
Sinergi tersebut melibatkan pemerintah daerah, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), serta Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian (BPLIP).
Bagi NTT, rampungnya target SID Oplah seluas 5.416 hektare menjadi bagian penting dalam tahapan perencanaan optimasi lahan pertanian. Tahapan selanjutnya akan diarahkan pada penyelesaian pemberkasan fisik dan memastikan hasil survei serta desain yang telah disusun dapat dipertanggungjawabkan secara teknis maupun administratif. (*/rnc)






WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan