Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Seba, RakyatNTT.ID – Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua memperkuat upaya percepatan penurunan stunting dengan menggelar Pra-Musyarawah Perencanaan Pembangunan (Pra-Musrenbang) Tematik Penanggulangan Stunting Tingkat Kecamatan Sabu Liae Tahun 2026.
Kegiatan yang dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Sabu Raijua Ir. Thobias Uly, M.Si tersebut berlangsung di Aula Kantor Camat Sabu Liae, Selasa (1/9/2026).
Forum tersebut menjadi ruang strategis untuk memperkuat koordinasi sekaligus menyusun langkah konkret dalam menangani persoalan stunting di Kecamatan Sabu Liae.
Pra-Musrenbang melibatkan berbagai unsur, mulai dari pimpinan perangkat daerah, pemerintah kecamatan dan desa, Puskesmas, TNI/Polri, kader, pendamping desa, Tim Pendamping Keluarga, tokoh agama, tokoh masyarakat hingga pemangku kepentingan lainnya.
Thobias: Stunting Bukan Sekadar Masalah Kesehatan
Dalam sambutannya, Thobias Uly menegaskan bahwa stunting tidak boleh hanya dipandang sebagai persoalan sektor kesehatan.
Menurutnya, stunting memiliki kaitan langsung dengan kualitas sumber daya manusia dan masa depan generasi Sabu Raijua.
“Hari ini kita tidak hanya berbicara tentang sebuah program pemerintah. Kita sedang berbicara tentang masa depan manusia,” tegas Thobias.
Ia mengatakan di balik data stunting terdapat anak-anak yang sedang tumbuh serta keluarga yang membutuhkan perhatian dan pendampingan secara berkelanjutan.
Karena itu, data yang tersedia harus menjadi dasar bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dalam menentukan langkah penanganan.
“Setiap angka yang kita lihat harus mampu menggerakkan kita untuk bertindak,” ujarnya.
Thobias menjelaskan stunting tidak terjadi secara tiba-tiba. Persoalan tersebut dapat dipengaruhi berbagai kondisi yang berlangsung sejak sebelum seorang anak dilahirkan.
Karena itu, pencegahan harus dilakukan sejak dini dan secara berkesinambungan, mulai dari remaja putri, calon pengantin, ibu hamil, ibu nifas, ibu menyusui, bayi hingga balita.
“Penanggulangan stunting harus dimulai sebelum stunting itu terjadi,” katanya.
Stunting Sabu Liae Capai 34,07 Persen
Berdasarkan hasil penimbangan balita pada Juli 2026 melalui data e-PPGBM, prevalensi stunting di Kecamatan Sabu Liae tercatat mencapai 34,07 persen.
Dari 675 balita yang diperiksa, sebanyak 230 balita tercatat mengalami stunting. Sementara 444 balita masuk kategori normal, 180 balita berada dalam kategori pendek dan 50 balita masuk kategori sangat pendek.
Angka tersebut menunjukkan bahwa stunting masih menjadi tantangan serius di Kecamatan Sabu Liae dan membutuhkan intervensi yang lebih terarah.
Kondisi antarwilayah desa juga menunjukkan perbedaan cukup mencolok.
Desa Ledeke tercatat memiliki prevalensi stunting tertinggi, yakni 53,06 persen, dengan 26 balita mengalami stunting.
Sementara Desa Waduwalla memiliki prevalensi terendah, yakni 18,46 persen, dengan 12 balita stunting.
Thobias menegaskan perbedaan data tersebut harus menjadi dasar dalam menentukan prioritas program.
“Data tersebut harus menjadi fokus utama dalam penyusunan rencana. Data harus menjawab pertanyaan: siapa yang harus kita bantu, di mana lokasinya, apa kebutuhannya, dan intervensi apa yang paling tepat?” tegasnya.
Ia meminta program penanganan stunting tidak disusun hanya berdasarkan kebiasaan atau karena program serupa pernah dilakukan sebelumnya.
Setiap intervensi harus berangkat dari masalah nyata dan menghasilkan solusi yang dapat diukur.
Satu Masalah Stunting Butuh Banyak Pihak
Wabup Thobias juga menekankan pentingnya pendekatan lintas sektor dalam penanganan stunting.
Jika persoalan yang ditemukan berkaitan dengan tingginya jumlah ibu hamil berisiko, maka perlu diperkuat pendampingan kehamilan dan pemenuhan kebutuhan gizi.
Sementara jika persoalannya berkaitan dengan air bersih dan sanitasi, penanganannya tidak dapat hanya mengandalkan sektor kesehatan.
Demikian pula ketika keluarga menghadapi keterbatasan pangan maupun persoalan ekonomi. Dibutuhkan keterpaduan antara sektor kesehatan, ketahanan pangan, pemberdayaan masyarakat dan perlindungan sosial.
“Artinya, satu masalah membutuhkan kerja banyak pihak,” tandas Thobias.
Ia mengajak perangkat daerah, pemerintah kecamatan dan desa, Puskesmas, kader, lembaga pendidikan, tokoh agama, tokoh adat, organisasi masyarakat hingga keluarga untuk meninggalkan pola kerja sektoral.
Seluruh pihak harus memiliki pemahaman yang sama bahwa stunting merupakan persoalan bersama dan membutuhkan tujuan penanganan yang sama.
Target Penurunan Stunting Harus Terus Dikejar
Dalam kesempatan tersebut, Thobias menyampaikan bahwa berdasarkan hasil survei e-PPGBM, prevalensi stunting Kabupaten Sabu Raijua pada Juli 2026 berada di angka 25,63 persen.
Angka tersebut telah berada di bawah target RPJMD tahun 2026 yang ditetapkan sebesar 31,6 persen.
Meski demikian, capaian kabupaten tersebut tidak boleh membuat perhatian terhadap wilayah dengan prevalensi tinggi berkurang, termasuk Kecamatan Sabu Liae.
Dalam RPJMD Kabupaten Sabu Raijua Tahun 2025-2029, pemerintah daerah menetapkan target prevalensi stunting sebesar 32,7 persen pada 2025 dan diturunkan menjadi 28 persen pada 2029.
Karena itu, Thobias meminta Pra-Musrenbang Tematik dimanfaatkan untuk merumuskan program yang realistis, terukur dan dapat dilaksanakan secara konsisten.
Ia juga mendorong penguatan edukasi kepada masyarakat mengenai gizi seimbang, pola asuh, sanitasi lingkungan serta pelayanan kesehatan ibu dan anak.
Enam Kelompok jadi Sasaran Prioritas
Thobias menjelaskan strategi percepatan pencegahan dan penurunan stunting 2025-2029 memberikan perhatian kepada enam kelompok sasaran prioritas.
Keenam kelompok tersebut meliputi ibu hamil, ibu menyusui dan ibu nifas; anak usia 0-23 bulan; anak usia 24-59 bulan; remaja putri; calon pengantin; serta rumah tangga dan masyarakat.
Keenam kelompok tersebut diharapkan menjadi perhatian utama dalam penyusunan program dan kegiatan di tingkat kecamatan maupun desa.
“Jangan sampai kita menyusun program hanya karena program tersebut pernah dilaksanakan sebelumnya. Perencanaan harus berangkat dari masalah dan berakhir pada solusi,” tegasnya.
Wabup Minta Data Tidak Berhenti jadi Angka
Menutup sambutannya, Thobias meminta seluruh perangkat daerah, camat, kepala Puskesmas, kepala desa dan pemangku kepentingan memperkuat koordinasi serta kolaborasi dalam mempercepat program penurunan stunting.
Forum Pra-Musrenbang Tematik diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi dan kegiatan yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
“Keterbatasan sumber daya yang kita miliki harus digunakan sebaik-baiknya, sehingga permasalahan stunting dapat kita atasi,” pungkasnya.
Dengan memohon tuntunan dan bimbingan Tuhan Yang Maha Kuasa, Wakil Bupati Sabu Raijua secara resmi membuka Pra-Musrenbang Tematik Penanggulangan Stunting Tingkat Kecamatan Sabu Liae Tahun 2026.
Forum tersebut diharapkan melahirkan intervensi lintas sektor yang lebih terarah dan tepat sasaran, sekaligus memperkuat komitmen pemerintah dan masyarakat dalam mewujudkan generasi Sabu Raijua yang sehat, tumbuh optimal dan memiliki kualitas sumber daya manusia yang semakin baik. (*/rnc)





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan