Ia mengatakan di balik data stunting terdapat anak-anak yang sedang tumbuh serta keluarga yang membutuhkan perhatian dan pendampingan secara berkelanjutan.

Karena itu, data yang tersedia harus menjadi dasar bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dalam menentukan langkah penanganan.

“Setiap angka yang kita lihat harus mampu menggerakkan kita untuk bertindak,” ujarnya.

Iklan

Thobias menjelaskan stunting tidak terjadi secara tiba-tiba. Persoalan tersebut dapat dipengaruhi berbagai kondisi yang berlangsung sejak sebelum seorang anak dilahirkan.

Karena itu, pencegahan harus dilakukan sejak dini dan secara berkesinambungan, mulai dari remaja putri, calon pengantin, ibu hamil, ibu nifas, ibu menyusui, bayi hingga balita.

“Penanggulangan stunting harus dimulai sebelum stunting itu terjadi,” katanya.

Stunting Sabu Liae Capai 34,07 Persen

Berdasarkan hasil penimbangan balita pada Juli 2026 melalui data e-PPGBM, prevalensi stunting di Kecamatan Sabu Liae tercatat mencapai 34,07 persen.

Dari 675 balita yang diperiksa, sebanyak 230 balita tercatat mengalami stunting. Sementara 444 balita masuk kategori normal, 180 balita berada dalam kategori pendek dan 50 balita masuk kategori sangat pendek.

Angka tersebut menunjukkan bahwa stunting masih menjadi tantangan serius di Kecamatan Sabu Liae dan membutuhkan intervensi yang lebih terarah.