Yohanis melakukan mediasi bersama Wakapolres dan Kasat Reskrim.

“Kami ajak para tokoh masyarakat, ada kepala desa, ada camat, dan juga perwakilan keluarga korban bersama saya. Saya bersama dengan Kasat Reskrim dan Wakapolres melakukan mediasi,” ujarnya.

Menurut Yohanis, mediasi tersebut menghasilkan kesepakatan agar jenazah dapat dibawa pulang oleh keluarga.

Namun, situasi kembali berubah ketika massa semakin banyak.

Yohanis mengatakan, setelah kesepakatan dicapai, pihaknya kembali ke lobi Mapolres sambil menunggu mobil jenazah.

Namun, saat itu massa semakin bertambah.

Menurut dia, muncul provokasi agar jenazah tidak dibawa keluar dari Mapolres.

“Pada saat kami dapatkan kesepakatan bersama, kami kembali ke lobi untuk menunggu kedatangan mobil jenazah untuk dimuat, diangkat. Karena massa semakin banyak, akhirnya diprovokasi lagi,” kata Yohanis.

Ia mengatakan, provokasi tersebut membuat sebagian massa kembali emosi sehingga kesepakatan yang sebelumnya telah dicapai menjadi tidak berjalan.

Situasi di Mapolres Sumba Barat kemudian semakin tegang. (rnc29)