Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Ba’a, RakyatNTT.ID – Tangis histeris keluarga dan kerabat pecah saat jenazah almarhumah Willi Mbuik, Aparatur Sipil Negara (ASN) asal Kabupaten Rote Ndao, tiba di rumah duka di Busalangga, Kecamatan Rote Barat Laut, Jumat (11/9/2026).
Jenazah Willi Mbuik tiba sekitar pukul 15.30 WITA setelah dipulangkan dari Papua Pegunungan melalui jalur penyeberangan ASDP. Kedatangan jenazah disambut keluarga besar dan kerabat yang telah menanti sejak beberapa jam sebelumnya.
Peti jenazah dijemput langsung oleh Bupati Rote Ndao Paulus Henuk bersama Kapolres Rote Ndao AKBP Henry Eko Irawan, Plt Sekda Rote Ndao Daniel Nalle, perwakilan Danlanal Rote Ndao, perwakilan Kodim 1627/RN, jajaran Pejabat Utama (PJU) Polres Rote Ndao, serta sejumlah pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemerintah Kabupaten Rote Ndao.
Suasana duka menyelimuti rumah keluarga korban. Tangisan pecah ketika peti jenazah diturunkan dan dibawa masuk ke rumah duka untuk disemayamkan.
Di tengah suasana duka tersebut, keluarga Willi Mbuik juga menyampaikan kecaman keras atas peristiwa penembakan yang menewaskan almarhum bersama dua pegawai lainnya saat menjalankan tugas dinas di Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.
Keluarga Minta Presiden dan Menteri HAM Turun Tangan
Keluarga mendesak Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) untuk memberikan perhatian serius serta memastikan tragedi tersebut diusut secara menyeluruh.
Sesepuh keluarga korban, Meilon Benhard Sula, mengatakan keluarga sangat terpukul atas meninggalnya Willi Mbuik. Menurutnya, almarhum merupakan salah satu tumpuan utama bagi orang tua dan keluarga besarnya.
“Kami sangat terpukul dan tidak terima. Almarhum adalah tumpuan dan harapan satu-satunya bagi orang tua serta keluarga besar kami,” ungkap Meilon saat memberikan keterangan kepada media menjelang kedatangan jenazah di rumah duka, Kelurahan Busalangga, Kecamatan Rote Barat Laut, Kabupaten Rote Ndao.
Keluarga mengutuk keras aksi penembakan terhadap para korban yang disebut sedang mengenakan pakaian dinas ketika menjalankan tugas pelayanan masyarakat.
Benhard menduga para korban menjadi sasaran karena diduga dituduh sebagai bagian dari intelijen pemerintah. Padahal, menurut keterangan keluarga, rombongan tersebut berada di Jayawijaya untuk menjalankan tugas pelayanan publik di bidang pertanian.
Keluarga juga mempertanyakan sejumlah hal terkait peristiwa penembakan tersebut.
Salah satu yang dinilai perlu dijelaskan adalah alasan hanya tiga dari total 11 pegawai yang ditugaskan ke lapangan menjadi sasaran penembakan hingga meninggal dunia.
Dua dari tiga korban tersebut diketahui merupakan warga asal Nusa Tenggara Timur.
“Ini yang kami mendesak Pemerintah Republik Indonesia untuk mengusut tuntas. Kenapa dari 11 orang yang diperintahkan pimpinan, hanya tiga orang yang ditembak, sementara delapan lainnya tidak,” tegas Benhard.
Menurut keluarga, pertanyaan tersebut penting dijawab melalui penyelidikan yang transparan agar tidak menimbulkan spekulasi dan memastikan seluruh fakta di balik peristiwa tersebut terungkap.
Minta TNI-Polri dan Menteri HAM Investigasi
Keluarga korban meminta Aparat Penegak Hukum (APH), baik TNI maupun Polri, untuk melakukan penyelidikan secara serius terhadap kronologi dan penyebab kematian para korban.
Keluarga juga meminta Menteri HAM segera mengirimkan tim investigasi khusus ke Jayawijaya untuk memastikan proses pengungkapan kasus berjalan secara transparan.
“Tolong dengarkan kami masyarakat kecil ini. Jangan anggap kematian ini sebagai hal yang biasa. Kami minta Pak Menteri HAM turunkan tim ke sana agar peristiwa ini terbuka terang benderang,” ujar Benhard.
Keluarga berharap proses hukum terhadap kasus tersebut tidak berhenti pada pemulangan jenazah, tetapi dilanjutkan dengan pengungkapan fakta, motif, serta pihak-pihak yang bertanggung jawab atas penembakan tersebut.
Keluarga Apresiasi Bantuan Pemerintah
Di tengah duka yang mendalam, keluarga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah yang telah membantu proses evakuasi hingga pemulangan jenazah Willi Mbuik ke kampung halamannya di Rote Ndao.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan, Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, serta Pemerintah Kabupaten Rote Ndao.
Bagi keluarga, kepulangan jenazah menjadi momen untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Willi Mbuik sekaligus menegaskan kembali tuntutan agar kasus penembakan di Jayawijaya dapat diusut secara tuntas dan transparan. (rnc)






WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan