Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Kupang, RakyatNTT.ID – Penanganan pascagempa Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai memasuki fase pemulihan setelah berbagai layanan dasar masyarakat berangsur kembali normal.
Dalam Rapat Koordinasi Bersama Presiden RI, Senin (7/9/2026) siang, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, menyebut aktivitas kesehatan, pendidikan, ekonomi hingga sosial kemasyarakatan mulai berjalan kembali.
Suharyanto mengatakan, berdasarkan data terbaru BNPB, korban meninggal dunia akibat bencana gempa Flores tercatat sebanyak 135 orang. Rinciannya, 48 orang meninggal dunia secara langsung akibat bencana, sementara 87 orang lainnya meninggal secara tidak langsung.
Selain korban meninggal dunia, BNPB mencatat sebanyak 1.752 orang mengalami luka-luka.
Layanan Dasar Mulai Kembali Normal
Menurut Suharyanto, kondisi di sejumlah wilayah terdampak menunjukkan perkembangan positif. Fasilitas kesehatan telah kembali beroperasi secara normal, meski BNPB masih melengkapi sejumlah layanan dengan tenda darurat.
Rumah sakit lapangan juga masih dioperasikan untuk mendukung pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak.
Di sektor pendidikan, kegiatan belajar mengajar di sekolah-sekolah mulai kembali berjalan meskipun sebagian masih memanfaatkan tenda sebagai ruang belajar sementara.
“Pembelajaran di sekolah-sekolah mulai normal walaupun menggunakan tenda-tenda,” kata Suharyanto.
Sementara itu, layanan dasar seperti listrik, komunikasi, bahan bakar minyak (BBM), dan air bersih juga mulai kembali normal.
Posko Logistik Halim Perdanakusuma Ditutup
Seiring membaiknya kondisi lapangan, Posko Logistik di Halim Perdanakusuma, Jakarta, juga telah ditutup. Keputusan tersebut diambil karena tidak ada lagi kebutuhan pengiriman logistik melalui jalur udara dari posko tersebut.
Meski demikian, Suharyanto memastikan ketersediaan logistik di wilayah terdampak masih mencukupi.
“Logistik di lapangan per hari ini masih mencukupi,” ujarnya.
BNPB juga memindahkan pusat media atau media center ke Jakarta. Sebelumnya, media center tersebut beroperasi di wilayah Flores untuk mendukung penyampaian informasi selama masa tanggap darurat.
Penanganan Mulai Diserahkan kepada Pemda NTT
Suharyanto menjelaskan, BNPB masih terus mendampingi pemerintah kabupaten/kota dalam menangani dampak bencana. Dukungan juga diberikan oleh unsur TNI dan Polri yang berada di wilayah NTT.
Namun, personel TNI/Polri yang sebelumnya diperbantukan dari pemerintah pusat mulai ditarik secara bertahap.
Dengan demikian, penanganan selanjutnya lebih banyak diserahkan kepada pemerintah daerah bersama jajaran TNI/Polri di NTT, dengan pendampingan BNPB.
“BNPB terus mendampingi pemda kabupaten/kota untuk lakukan penanganan dibantu personel TNI/Polri,” jelas Suharyanto.
Bantuan Rumah Rusak Mulai Diverifikasi
Berdasarkan data awal kerusakan rumah mencapai 102.384 unit dari 7 kabupaten terdampak gempa. Dari jumlah itu, Kabupaten Nagekeo sebanyak 15.929 unit, Ende 10.147 unit, Manggarai 22.758 unit, Manggarai Timur 24.392 unit, Manggarai Barat tahap 1 sebanyak 9.742 unit dan tahap 2 sebanyak 2.871 unit. Selanjutnya Kabupaten Ngada sebanyak 12.297 unit dan Sikka sebanyak 4.248 unit.
Dari total 102.384 unit rumah, sebanyak 26.089 unit mengalami rusak berat, 22.505 rusak sedang dan 50.392 unit rusak ringan.
BNPB masih melakukan verifikasi ulang terhadap kerusakan rumah warga terdampak gempa di tujuh kabupaten tersebut.
Dari hasil pendataan, tidak seluruh rumah yang terdampak masuk dalam kategori rusak ringan, sedang, atau berat. Bagi rumah yang tidak memenuhi kriteria tersebut, pemerintah menyiapkan skema bantuan khusus.
Untuk rumah dengan kategori rusak ringan, pemerintah memberikan bantuan sebesar Rp15 juta. Sementara rumah rusak sedang memperoleh bantuan Rp30 juta.
Adapun rumah yang mengalami rusak berat akan dibangun kembali melalui dukungan kementerian terkait maupun BNPB.
Selain pembangunan kembali rumah permanen, pemerintah juga tengah membangun hunian sementara menggunakan material seperti GRC, bambu, dan kayu bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat.
Aktivitas Ekonomi dan Sosial Kembali Bergerak
Suharyanto menyebut pemulihan tidak hanya terlihat dari layanan dasar, tetapi juga dari aktivitas masyarakat sehari-hari.
Pasar-pasar mulai beroperasi dan aktivitas ekonomi masyarakat kembali bergerak. Kegiatan sosial dan keagamaan juga mulai berjalan seperti sebelum bencana.
Perkembangan tersebut menjadi indikator bahwa masyarakat di wilayah terdampak mulai memasuki fase pemulihan setelah menghadapi masa tanggap darurat.
NTT Bersiap Akhiri Tanggap Darurat
Sejalan dengan kondisi yang semakin stabil, Pemerintah Provinsi NTT mulai berkoordinasi dengan BNPB untuk mengakhiri masa tanggap darurat dan memasuki tahap rehabilitasi.
Tahap berikutnya akan diarahkan pada pemulihan kehidupan masyarakat, perbaikan rumah dan fasilitas yang rusak, serta pemulihan aktivitas sosial dan ekonomi di wilayah terdampak.
Dengan beralihnya penanganan dari fase darurat menuju rehabilitasi, pemerintah diharapkan dapat memastikan proses pemulihan berjalan cepat sekaligus menjamin kebutuhan masyarakat terdampak tetap terpenuhi. (rnc)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan