Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Jakarta, RakyatNTT.ID – Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58 WIB atau 05.58 WITA.
Gempa yang berpusat sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo tersebut sempat memicu peringatan dini tsunami hingga pukul 07.30 WIB.
Meski Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengakhiri peringatan dini tsunami setelah mendeteksi gelombang dengan ketinggian di bawah satu meter di sejumlah wilayah, potensi dampak gempa tersebut masih menjadi perhatian para ahli.
Dilansir dari detikcom, pakar Geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof Dr Ir Amien Widodo MSi, mengungkapkan hasil simulasi menunjukkan gelombang tsunami akibat gempa di Laut Flores secara teoritis dapat menjalar hingga sejumlah wilayah di luar NTT.
Menurut Amien, wilayah yang berpotensi terdampak antara lain pesisir utara Bali, bagian timur Jawa Timur, khususnya sekitar Situbondo, serta pesisir utara Lombok.
“Kalau kemarin disimulasikan memang sampai ke mana-mana istilahnya kalau terjadi tsunami. Bali tapi bagian utara, Jawa ya bagian sisi Situbondo bagian timur, semacam itu. Lombok ya bagian utara,” kata Prof Amien, Minggu (16/8/2026).
Pergeseran Dasar Laut Picu Gelombang Tsunami
Amien menjelaskan, gempa M 7,7 NTT berkaitan dengan aktivitas sesar naik atau back-arc thrust fault di kawasan Laut Flores. Pergerakan vertikal dasar laut menyebabkan massa air terdorong ke atas sehingga memicu terbentuknya gelombang tsunami.
Menurutnya, mekanisme tersebut juga menjelaskan fenomena air laut yang sempat surut di wilayah pesisir sebelum gelombang tsunami datang.
“Di tengah laut airnya menuju ke atas. Setelah surut tadi, maka istilahnya menyeimbangkan kembali, maka terjadilah tsunami tadi,” jelasnya.
Namun, Amien menegaskan masyarakat di Jawa Timur maupun Bali tidak perlu panik. Potensi gelombang tsunami yang mencapai wilayah tersebut dinilai sangat kecil karena energi dan dorongan vertikal dasar laut semakin melemah seiring bertambahnya jarak.
Ia mencontohkan wilayah yang relatif lebih dekat dengan sumber gempa seperti Labuan Bajo pun mengalami gelombang dengan ketinggian yang relatif rendah.
“Di Labuan Bajo yang dekat saja mungkin di bawah 30 cm, maka yang jauh menjadi sangat berkurang,” ujarnya.
Tidak Semua Jalur Patahan Saling Terhubung
Prof Amien juga menjelaskan mengenai karakter geologi kawasan Laut Flores yang sama-sama memiliki sistem sesar naik dengan sejumlah struktur patahan di Pulau Jawa.
Ia menyebut terdapat kemiripan karakter antara sistem patahan di Laut Flores dan Sesar Kendeng di Jawa. Sesar Kendeng sendiri merupakan sistem sesar naik yang membentang panjang dan terdiri atas sejumlah segmen.
Namun, ia meluruskan anggapan bahwa jalur patahan tersebut secara langsung membentang hingga Surabaya, Madura, dan Tuban.
Menurut Amien, kawasan Tuban dan Madura memiliki sistem patahan tersendiri yang dikenal sebagai Sesar Rembang-Madura-Kangean-Sakala (RMKS).
“Surabaya, Madura, Tuban itu jauh, beda lagi sebetulnya. Kalau Tuban itu sendiri ada patahan sendiri di sana, patahan RMKS,” jelasnya.
Ia menambahkan, keberadaan Sesar RMKS turut berperan dalam proses geologi yang menyebabkan wilayah Madura terangkat menjadi sebuah pulau.
Penjelasan tersebut menegaskan bahwa meskipun gempa M 7,7 NTT memiliki energi besar dan memicu tsunami lokal, potensi dampaknya terhadap wilayah yang jauh seperti Jawa Timur dan Bali utara sangat kecil.
BMKG sendiri telah mengakhiri peringatan dini tsunami setelah melakukan pemantauan terhadap kondisi muka air laut di sejumlah wilayah. Masyarakat tetap diimbau mengikuti informasi resmi BMKG dan tidak mudah terpengaruh informasi yang tidak terverifikasi terkait potensi tsunami susulan. (*/rnc)





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan