Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Menurutnya, mekanisme tersebut juga menjelaskan fenomena air laut yang sempat surut di wilayah pesisir sebelum gelombang tsunami datang.
“Di tengah laut airnya menuju ke atas. Setelah surut tadi, maka istilahnya menyeimbangkan kembali, maka terjadilah tsunami tadi,” jelasnya.
Namun, Amien menegaskan masyarakat di Jawa Timur maupun Bali tidak perlu panik. Potensi gelombang tsunami yang mencapai wilayah tersebut dinilai sangat kecil karena energi dan dorongan vertikal dasar laut semakin melemah seiring bertambahnya jarak.
Ia mencontohkan wilayah yang relatif lebih dekat dengan sumber gempa seperti Labuan Bajo pun mengalami gelombang dengan ketinggian yang relatif rendah.
“Di Labuan Bajo yang dekat saja mungkin di bawah 30 cm, maka yang jauh menjadi sangat berkurang,” ujarnya.
Tidak Semua Jalur Patahan Saling Terhubung
Prof Amien juga menjelaskan mengenai karakter geologi kawasan Laut Flores yang sama-sama memiliki sistem sesar naik dengan sejumlah struktur patahan di Pulau Jawa.
Ia menyebut terdapat kemiripan karakter antara sistem patahan di Laut Flores dan Sesar Kendeng di Jawa. Sesar Kendeng sendiri merupakan sistem sesar naik yang membentang panjang dan terdiri atas sejumlah segmen.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan