Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Kupang, RakyatNTT.ID – Yohanes Sason Helan siap menghadapi laporan polisi yang dibuat oleh General Manager KSP Kopdit Swasti Sari, Imelda Anin. Sason Helan yang juga adalah Ketua Pengurus Kopdit Swasti Sari mengaku tidak pernah merusak kunci pintu ruangan rapat, sebagaimana laporan Imelda Anin ke polisi.
Menurutnya, pintu ruangan rapat sekaligus ruangan aula itu memang harus diganti kuncinya, karena sudah beberapa hari terkunci yang mengakibatkan pengurus-pengawas tidak bisa melaksanakan tugas dengan baik. Dan sebelum dilakukan penggantian kunci, mereka terlebih dahulu menyurati pihak yang membawa kunci ruangan.
“Sesuai pengakuan sekretaris GM bahwa Welem Geri yang membawa kunci ke rumahnya. Itu tidak ada dalam SOP sebab semua aset termasuk kunci diamankan oleh security. Selama 30-an tahun di lembaga ini, kunci ruangan saya pun, tidak pernah saya bawa ke rumah. Karena itu sudah ada SOP. Jadi tidak ada pengrusakan kunci. Yang benar adalah penggantian kunci ruangan,” ujar Sason Helan kepada wartawan, Senin (10/8/2026) didampingi sejumlah pengurus dan pengawas, diantaranya Ambrosius Pan, Dominikus Ancis, Pius Rengka, Servatius Lawang, dan Benny Leonard.
Sason Helan menyebut bahwa proses penggantian kunci pintu ruangan oleh ahli kunci yang mereka datangkan, tidak hanya disaksikan pengurus-pengawas. Sejumlah karyawan, bahkan GM Imelda Anin, juga ada saat itu.
“Ada videonya. Di video, GM ada dan karyawan juga ada. Ini hanya dibesar-besarkan kepada anggota supaya saya dianggap perusak. Padahal anggota sudah bosan dengan koar-koar seperti ini,” katanya.
“Kalau polisi panggil, saya siap bertanggungjawab. Kita lihat siapa yang benar nantinya. Menurut saya, satu dua orang yang koar-koar itu hanya gertak sambal yang tidak usah digubris. Jadi anggota tidak usah gubris. Saya Yohanes Sason Helan masih mempertaruhkan untuk kebaikan lembaga ini,” sambung Sason Helan.
Pengakuan Sason Helan turut dibenarkan oleh Ambrosius Pan selalu Ketua Pengawas. Menurutnya kata pengrusakan sebagaimana laporan GM Swasti Sari, tentu tidaklah tepat.
“Proses membuka pintu oleh ahli kunci disaksikan pengurus, pengawas dan manajemen. Setelah itu, Pak Sason Helan menyerahkan ke GM, tapi beliau tidak mau terima,” terang Ambrosius Pan.
Senada dengan Sason Helan dan Ambrosius Pan, Wakil Ketua Pengurus, Dominikus Ancis juga heran dengan laporan polisi yang dibuat Imelda Anin. Dominikus heran lantaran ruangan yang sama justru dimanfaatkan oleh manajemen untuk menggelar konferensi pers. Padahal sebelumnya, Imelda Anin menolak menerima kunci usai proses penggantian kunci.
“Di awal mereka bilang kunci ada di Welem Geri. Kemudian kami ganti dengan kunci dengan kunci yang baru. Saat diserahkan ke ibu GM, dia tidak mau. Koq tiba-tiba sore mereka bisa masuk dan gunakan aula itu untuk konferensi pers. Jadi ada banyak pertanyaan di sini,” ungkap Dominikus Ancis.
Abaikan Amanat RAT
Yohanes Sason Helan pada kesempatan yang sama juga mengaku ada banyak hal yang tidak beres di KSP Kopdit Swasti Sari selama tiga tahun terakhir. Salah satunya adalah ketidakpatuhan terhadap amanat Rapat Anggota Tahunan (RAT).
“Amanat RAT itu tidak dieksekusi selama kurang lebih tiga tahun. Salah satunya amanat RAT yakni menonjobkan Kasimirus Kopong dari jabatan sebagai Wakil GM. Di RALB, kami juga masukan itu tapi tidak dieksekusi,” sebut Sason Helan.
Secara tegas Sason Helan mengatakan bahwa pasca RALB, Kasimirus Kopong bukan lagi sebagai Wakil GM.
“Dalam jangka waktu 3×24 jam, kami menunggu kepastian beliau (GM, red) untuk memutasikan Kasimirus Kopong sebagai karyawan biasa di kantor cabang tanpa jabatan. Kalau beliau tidak menghiraukan maka kami akan mengambil tindakan selanjutnya. Ini amanat anggota, bukan kami pribadi,” pungkasnya.
Untuk diketahui, selain mempersoalkan penggantian kunci ruangan rapat/aula oleh Yohanes Sason Helan cs, manajemen juga membatasi pengurus-pengawas versi RALB dalam beraktivitas. Akses masuk menuju ruangan di lantai 3 Kantor Pusat Kopdit Swasti Sari, yang sebelumnya tidak ada pintu, saat ini sudah dipasang pintu.
“Pintu itu dipasang memang tujuan untuk membatasi kami dalam melaksanakan tugas,” ungkap Ambrosius Pan. (rnc)





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan