Menurut Lukman, dolar AS mengalami penguatan tajam setelah adanya sinyal hawkish dari Kepala The Fed Warsh. Selain itu, eskalasi geopolitik di Timur Tengah turut menjadi faktor yang dapat meningkatkan tekanan terhadap rupiah.

“Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS yang rebound tajam menyusul pidato hawkish dari Kepala The Fed Warsh serta geopolitik di Timur Tengah yang kembali tereskalasi oleh serangan AS terhadap Iran,” ujar Lukman.

Ia memperkirakan nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin bergerak dalam rentang Rp17.650 hingga Rp17.800 per dolar AS.

Iklan

Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah masih perlu diwaspadai investor, terutama apabila dolar AS kembali menguat akibat perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik.

Pergerakan rupiah selanjutnya akan bergantung pada sentimen global, arah dolar AS, serta respons pelaku pasar terhadap perkembangan ekonomi dan geopolitik sepanjang perdagangan. (*/rnc)