Seba, RakyatNTT.ID – Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua terus memperkuat sistem kesehatan daerah melalui peningkatan pencegahan dan pengendalian penyakit.

Langkah tersebut diwujudkan melalui Rapat Koordinasi dan Evaluasi Pelaksanaan Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) tingkat Kabupaten Sabu Raijua.

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Gereja Pniel Menia, Kecamatan Sabu Barat, Selasa (4/8/2026), dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Sabu Raijua, Ir. Thobias Uly, M.Si.

Iklan

Rapat koordinasi tersebut diikuti 257 peserta dari berbagai unsur, mulai dari jajaran pemerintah daerah, tenaga kesehatan hingga tokoh agama dan unsur masyarakat.

Hadir dalam kegiatan tersebut Plt. Asisten I Sekda, Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PPKB), perwakilan Kantor Kementerian Agama, para camat, kepala desa, kepala puskesmas, tokoh agama, tenaga kesehatan, organisasi profesi, serta berbagai unsur lintas sektor.

P2P jadi Pilar Pengendalian Penyakit

Ketua Panitia, Serl. S. Koro, S.KM., dalam laporannya menjelaskan bahwa Program P2P merupakan salah satu pilar strategis dalam upaya menekan angka kesakitan, kecacatan dan kematian akibat penyakit.

Program tersebut juga diarahkan untuk memperkuat kewaspadaan terhadap penyakit menular serta mengantisipasi potensi Kejadian Luar Biasa (KLB).

Rapat koordinasi dan evaluasi ini menjadi momentum untuk melihat capaian program sekaligus mengidentifikasi berbagai kendala di lapangan, termasuk keterbatasan sumber daya.

Selain itu, forum tersebut diarahkan untuk memperkuat sistem surveilans dan pelaporan sehingga setiap potensi penyakit maupun KLB dapat ditangani secara cepat.

Cuaca Ekstrem Picu Keluhan Batuk dan Pilek

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Thobias Uly memberikan perhatian khusus terhadap kondisi cuaca ekstrem yang sedang melanda Sabu Raijua.

Angin kencang disertai debu yang beterbangan disebut turut memicu meningkatnya keluhan batuk dan pilek di tengah masyarakat.

Karena itu, Wabup meminta tenaga kesehatan tetap menjaga kondisi fisik agar dapat memberikan pelayanan secara optimal.

“Saya berharap tenaga kesehatan tetap menjaga kesehatan fisik agar tetap prima dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ujar Thobias.

Menurutnya, tenaga kesehatan merupakan garda terdepan dalam memastikan masyarakat tetap mendapatkan pelayanan kesehatan, terutama ketika menghadapi berbagai tantangan kesehatan di lapangan.

TBC hingga Leptospirosis jadi Perhatian

Wakil Bupati menegaskan bahwa kesehatan merupakan modal utama dalam pembangunan daerah. Karena itu, berbagai persoalan kesehatan harus ditangani secara serius dan berkelanjutan.

Salah satu perhatian utama adalah penuntasan pengobatan Tuberkulosis (TBC). Menurutnya, keberhasilan pengobatan TBC sangat penting untuk memutus rantai penularan di tengah masyarakat.

Selain TBC, masyarakat juga diingatkan menjaga kebersihan lingkungan guna mencegah munculnya kembali penyakit leptospirosis.

Di sisi lain, pola hidup sehat juga perlu terus didorong untuk mengendalikan penyakit tidak menular seperti diabetes dan penyakit jantung.

Upaya pencegahan tersebut dinilai penting karena perubahan pola hidup dan peningkatan kesadaran masyarakat dapat membantu menekan risiko penyakit dalam jangka panjang.

Camat dan Kepala Desa Diminta Aktif Kawal Program Kesehatan

Dalam arahannya, Wabup Thobias meminta seluruh unsur pemerintahan dan masyarakat mengambil peran dalam pengendalian penyakit.

Dinas Kesehatan, PP dan KB diminta memperkuat deteksi dini, mempercepat respons terhadap potensi KLB, serta mengoptimalkan kegiatan promotif dan preventif.

Sementara itu, para camat, lurah dan kepala desa diminta mengawal pelaksanaan program kesehatan di wilayah masing-masing.

Mereka juga didorong memastikan masyarakat mendapatkan akses pelayanan kesehatan serta menggerakkan kader kesehatan, RT dan RW untuk membudayakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Tak hanya pemerintah, tokoh agama juga diminta berperan aktif dalam menyampaikan pesan-pesan kesehatan kepada masyarakat.

Pesan mengenai pentingnya menjaga kesehatan dan imunisasi diharapkan dapat disisipkan dalam berbagai kegiatan keagamaan sehingga semakin mudah diterima masyarakat.

Wabup Thobias Dorong Kolaborasi Lintas Sektor

Thobias menegaskan bahwa keberhasilan program pencegahan dan pengendalian penyakit tidak dapat hanya mengandalkan Dinas Kesehatan.

Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, fasilitas kesehatan, pemerintah desa, tokoh agama, organisasi profesi, kader kesehatan dan masyarakat.

“Melalui rapat ini, mari kita tingkatkan komitmen seluruh pemangku kepentingan. Dengan kebersamaan, saya yakin kita dapat mewujudkan masyarakat Sabu Raijua yang sehat, kuat, produktif, dan sejahtera,” tutup Thobias Uly.

Melalui rapat koordinasi dan evaluasi tersebut, Pemkab Sabu Raijua berharap sistem pencegahan dan pengendalian penyakit semakin kuat, respons terhadap ancaman KLB semakin cepat, serta kesadaran masyarakat terhadap perilaku hidup sehat terus meningkat. (*/rnc)