Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Kalabahi, RakyatNTT.ID — Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Irjen Pol (Purn.) Dr. Drs. Johni Asadoma, SH, MH, mendorong para lulusan STKIP Muhammadiyah Kalabahi untuk menjadikan kerja keras, disiplin, komitmen, dan konsistensi sebagai modal utama menghadapi dunia kerja.
Pesan tersebut disampaikan Johni Asadoma saat menghadiri Sidang Terbuka Senat Wisuda STKIP Muhammadiyah Kalabahi Angkatan VII Periode 2025/2026 di Aula Hotel Symphoni, Kalabahi, Kabupaten Alor, Senin (31/8/2026).
Menurut Johni, keberhasilan para wisudawan dan wisudawati meraih gelar sarjana merupakan buah dari perjuangan panjang. Proses tersebut tidak terlepas dari kerja keras mahasiswa, doa, pengorbanan, serta dukungan orang tua.
“Belajar empat tahun dengan keras, dengan pengorbanan, mengorbankan kesenangan. Tetapi hari ini hasilnya sudah bisa dirasakan,” ujar Johni.
Ia menegaskan, keberhasilan tidak datang secara instan. Setiap pencapaian membutuhkan disiplin, kerja keras, tekad, komitmen, dan konsistensi.
Karena itu, para lulusan diminta tidak hanya bersyukur atas pencapaian akademik, tetapi juga menghargai jasa orang tua yang telah memberikan dukungan selama menempuh pendidikan.
Wagub Johni Minta Sarjana Tidak Hanya Menunggu Lowongan Kerja
Di hadapan para wisudawan, Johni Asadoma juga mengingatkan tantangan yang akan dihadapi setelah menyandang gelar sarjana. Menurutnya, lulusan perguruan tinggi tidak boleh hanya berorientasi menjadi pegawai pemerintah atau menunggu pekerjaan formal.
Ia menjelaskan, lapangan kerja formal semakin kompetitif di tengah jumlah lulusan perguruan tinggi yang terus bertambah. Sementara itu, kemampuan anggaran pemerintah juga menjadi salah satu faktor yang membuat kesempatan menjadi aparatur sipil negara semakin terbatas.
Kondisi tersebut, kata Johni, menuntut para sarjana memiliki kemampuan beradaptasi dan melihat peluang yang lebih luas.
Seorang lulusan perguruan tinggi, menurutnya, tidak harus selalu menunggu pekerjaan yang benar-benar sesuai dengan bidang studi yang ditempuh.
“Kalau belum mendapatkan kesempatan untuk bekerja di sektor formal, jangan malu untuk mulai berwirausaha dari hal-hal yang paling kecil,” katanya.
Johni mendorong para sarjana untuk memanfaatkan ilmu, keterampilan, kreativitas, serta potensi yang ada di lingkungan sekitar untuk membangun usaha.
Menurutnya, menjadi wirausahawan bukan sekadar alternatif ketika tidak mendapatkan pekerjaan formal. Kewirausahaan justru dapat menjadi jalan untuk menciptakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan kemandirian ekonomi.
Jangan Lupakan Orang Tua setelah Sukses
Selain persoalan dunia kerja, Johni juga berpesan agar para lulusan tidak melupakan orang tua ketika kelak mencapai kesuksesan.
Ia menggunakan kisah Malin Kundang sebagai gambaran tentang pentingnya seorang anak tetap menghormati orang tua, apa pun latar belakang dan pekerjaan mereka.
“Siapa pun orang tua kita, apakah dia pejabat, pengusaha kaya, petani, maupun pemulung, jangan pernah lupakan mereka,” tegasnya.
Johni kemudian menceritakan pengalamannya ketika bertemu seorang ibu yang berjualan kue bersama anak perempuannya di kawasan Penfui, Kota Kupang.
Anak perempuan tersebut diketahui merupakan mahasiswa Universitas Nusa Cendana (Undana) jurusan ekonomi. Meski sedang menempuh pendidikan tinggi, ia tetap membantu ibunya berjualan.
Bagi Johni, sikap tersebut merupakan contoh bahwa pendidikan tinggi tidak seharusnya membuat seseorang menjauh dari orang tua.
Pariwisata Alor Bisa jadi Peluang Usaha bagi Sarjana
Johni juga mengajak para lulusan STKIP Muhammadiyah Kalabahi melihat potensi pariwisata sebagai peluang ekonomi di Kabupaten Alor.
Ia menilai perkembangan pariwisata NTT dalam beberapa tahun terakhir membuka peluang baru bagi masyarakat, termasuk generasi muda di Alor.
Menurutnya, mulai meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara dari Eropa, Amerika, dan Australia menjadi sinyal bahwa Alor memiliki potensi pariwisata yang dapat dikembangkan lebih serius.
Peluang tersebut dapat dimanfaatkan melalui berbagai sektor usaha, seperti jasa pariwisata, penginapan, kuliner, transportasi, ekonomi kreatif, hingga usaha pendukung lainnya.
Karena itu, Johni meminta para sarjana tidak hanya memosisikan diri sebagai pencari kerja, tetapi juga berani menjadi pencipta lapangan kerja.
Keberhasilan, katanya, tidak semata-mata diukur dari status sebagai pegawai pemerintah. Seorang pengusaha juga dapat berkontribusi besar apabila mampu mengembangkan usaha, membuka lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Johni Soroti Konflik di Alor
Dalam kesempatan tersebut, Johni juga menyoroti persoalan keamanan dan konflik antarkelompok yang masih terjadi di Kabupaten Alor.
Ia menilai tawuran maupun pertikaian antarkelompok tidak seharusnya terus terjadi ketika masyarakat dan pemerintah sedang berupaya mendorong pembangunan daerah.
“Daerah lain sudah maju, negara lain sudah maju. Orang sudah berpikir bagaimana kehidupan di bulan. India sudah mengirim pesawat keluar angkasa, kita masih saja berurusan dengan persoalan seperti ini,” katanya.
Johni mengingatkan masyarakat agar menjaga komitmen terhadap deklarasi damai yang telah disepakati bersama. Menurutnya, keamanan dan kedamaian merupakan fondasi penting bagi pembangunan daerah.
Sebagai putra Alor, Johni mengaku memiliki kepedulian besar terhadap kemajuan daerah tersebut. Ia berharap Alor mampu berkembang dan sejajar dengan daerah lain.
“Saya sebagai pemerintah daerah, saya putra Alor. Saya sangat berkepentingan untuk membangun Alor ini ke arah yang lebih baik dan lebih maju,” ujarnya.
Menutup sambutannya, Johni menyampaikan selamat kepada seluruh wisudawan dan wisudawati STKIP Muhammadiyah Kalabahi serta para orang tua.
Ia berharap para sarjana baru dapat memanfaatkan ilmu dan pengalaman selama kuliah untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, Kabupaten Alor, NTT, dan bangsa. (rnc)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan