Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Menurut Yerimoth, pengawalan penting dilakukan karena besarnya anggaran harus diikuti target yang jelas serta hasil yang dapat diukur.
Ia berharap pelaksanaan program disertai keterbukaan mengenai lokasi kegiatan, kelompok penerima manfaat, luas pengembangan komoditas, target produksi hingga hasil yang dicapai.
Bagi IKO, keberhasilan program pertanian di Alor harus terlihat dari perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat, bukan hanya dari besarnya anggaran yang dialokasikan.
Ketahanan Pangan dan Ekonomi jadi Fokus
Yerimoth melihat pertemuan dengan Menteri Pertanian sebagai momentum penting untuk menghubungkan dua kebutuhan utama Kabupaten Alor, yakni penguatan ketahanan pangan dan peningkatan ekonomi masyarakat.
Di satu sisi, kawasan seperti Lantoka perlu diperkuat agar produksi pangan lokal meningkat. Di sisi lain, pengembangan kakao, jambu mete dan kelapa melalui dukungan anggaran sekitar Rp33 miliar diharapkan menciptakan sumber pendapatan baru bagi masyarakat dan daerah.
Menurutnya, kedua agenda tersebut memiliki tujuan yang sama, yakni menjadikan Alor semakin produktif dan mengurangi ketergantungan terhadap bantuan maupun pasokan dari luar daerah.
“Kita bersyukur pemerintah pusat memberikan perhatian besar kepada Alor. Sekarang tugas kita adalah memastikan perhatian itu menghasilkan sesuatu yang bertahan lama: petani semakin produktif, ekonomi masyarakat bergerak, PAD bertambah, dan Alor secara bertahap mampu keluar dari kemiskinan,” pungkas Yerimoth. (rnc)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan