Mbay, RakyatNTT.ID – Tim Tanggap Bencana dan Bantuan Medis Universitas Nusa Cendana (Undana) menuntaskan enam hari pelayanan kesehatan bagi warga terdampak gempa bumi di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dalam operasi kemanusiaan yang berlangsung pada 23–28 Agustus 2026 tersebut, tim medis gabungan Undana berhasil memberikan pelayanan kepada 552 warga terdampak gempa Flores.

Laporan tertulis kegiatan tersebut diterima Humas Undana pada Sabtu (29/8/2026). Pelayanan dilakukan melalui kombinasi posko kesehatan tetap dan penyisiran langsung atau field visit ke desa-desa yang mengalami keterbatasan akses.

Posko Berdikari Danga jadi Pusat Pelayanan

Pergerakan tim medis Undana berpusat di Posko Lapangan Berdikari Danga. Posko tersebut menjadi fasilitas pelayanan kesehatan harian sekaligus titik koordinasi untuk menjangkau sejumlah wilayah terdampak bencana.

Selain pelayanan di posko, tim juga bergerak ke sembilan desa dan sejumlah lokasi terdampak lainnya di Nagekeo.

Keberadaan posko tetap menjadi tumpuan masyarakat dan petugas kebencanaan, terutama ketika fasilitas kesehatan terdekat tidak lagi beroperasi pada sore hari.

Pola pelayanan tersebut memungkinkan tim Undana menjangkau warga yang mengalami kesulitan mendapatkan layanan kesehatan akibat kondisi infrastruktur dan akses geografis pascagempa.

Hari Pertama, 72 Pasien Mendapat Pelayanan

Pelayanan dimulai pada Minggu (23/8/2026). Pada hari pertama, tim medis menangani 72 pasien.

Sebanyak 29 pasien mendapatkan pelayanan di Pos Layanan Kesehatan Lapangan Berdikari Danga, dua pasien melalui field visit di Desa Watukesu, dan 41 pasien di Desa Marapokot.

Pada hari kedua, Senin (24/8/2026), jumlah warga yang mendapat pelayanan meningkat menjadi 90 pasien.

Rinciannya, 14 pasien di Desa Rendu Teno, 61 pasien di Desa Wajomara, satu pasien di Desa Lengadawa, serta 14 pasien di Posko Berdikari Danga.

Memasuki hari ketiga, Selasa (25/8/2026), tim kembali bergerak ke sejumlah wilayah dan melayani 119 pasien.

Pelayanan diberikan kepada 32 pasien di Desa Ngegedhawe (Malaruma), 52 pasien di Desa Watu Api, serta 35 pasien di posko utama.

205 Pasien Dilayani dalam Sehari

Pada hari keempat, Rabu (26/8/2026), tim melayani 40 pasien di Posko Berdikari Danga.

Jumlah pasien kemudian melonjak pada hari kelima, Kamis (27/8/2026). Sebanyak 205 pasien mendapatkan pelayanan kesehatan dalam sehari.

Sebagian besar pasien berada di wilayah yang membutuhkan penyisiran langsung. Sebanyak 149 pasien dilayani di Desa Olaia, 20 pasien di Desa Tedakisa, dan 36 pasien di Posko Berdikari Danga.

Rangkaian pelayanan ditutup pada Jumat (28/8/2026). Pada hari keenam, tim menangani 26 pasien di Posko Berdikari Danga.

Jika seluruh pelayanan selama enam hari dijumlahkan, tercatat 552 pasien mendapatkan layanan kesehatan dari tim medis Undana.

Rektor Undana Apresiasi Relawan Medis

Rektor Undana Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng., menyampaikan apresiasi kepada seluruh dokter alumni Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan (FKKH) Undana, mahasiswa relawan, serta para mitra yang terlibat dalam operasi kemanusiaan tersebut.

Menurutnya, pelayanan langsung ke wilayah terdampak merupakan bagian dari komitmen Undana dalam memberikan pengabdian kepada masyarakat NTT.

“Capaian pelayanan hingga 552 pasien selama enam hari ini menunjukkan dedikasi luar biasa dari para relawan medis Undana. Kehadiran tim di 10 titik lokasi bencana di Nagekeo adalah bukti nyata pengabdian Undana untuk masyarakat NTT,” ungkap Jefri.

Undana juga menyatakan akan terus mengevaluasi kebutuhan medis lanjutan dan berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Nagekeo serta Dinas Kesehatan setempat.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kebutuhan kesehatan masyarakat tetap terpantau selama memasuki fase pemulihan pascabencana.

Jangkau Wilayah Terpencil untuk Cegah Krisis Kesehatan

Pelayanan langsung ke wilayah terpencil dinilai penting dalam mencegah munculnya persoalan kesehatan sekunder setelah bencana.

Kerusakan infrastruktur fasilitas kesehatan dan terbatasnya jam operasional layanan medis dapat membuat warga terdampak gempa kesulitan memperoleh pengobatan secara tepat waktu.

Kondisi tersebut berpotensi membuat penyakit kronis maupun infeksi tidak tertangani dengan baik.

Karena itu, pengerahan dokter alumni dan mahasiswa relawan Undana ke desa-desa terdampak menjadi langkah penting untuk memperluas akses layanan kesehatan.

Selama enam hari, tim tidak hanya menunggu warga datang ke posko, tetapi bergerak mendatangi masyarakat di wilayah yang sulit dijangkau.

Upaya tersebut memastikan ratusan penyintas gempa di Nagekeo tetap memperoleh pemeriksaan dan penanganan medis meski menghadapi keterbatasan akses akibat kondisi pascabencana. (*/rnc)