Menurutnya, pengalaman mahasiswa selama dua bulan berada di Sabu Raijua memberikan gambaran langsung mengenai kondisi daerah, terutama karakter geografis dan iklim yang menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat.

Thobias menjelaskan, Sabu Raijua saat ini telah memasuki musim kemarau. Sementara musim hujan di wilayah tersebut relatif singkat.

“Saat ini kita sudah memasuki musim kemarau. Musim hujan di Sabu Raijua juga relatif singkat. Apa yang kalian rasakan dan alami selama dua bulan berada di sini, itulah keadaan Sabu Raijua yang sesungguhnya,” jelasnya.

Ia berharap pengalaman tersebut tidak berakhir bersamaan dengan selesainya kegiatan KKN. Para mahasiswa diharapkan membawa pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh untuk kemudian dibagikan kepada orang lain.

Sabu Raijua Punya Banyak Potensi Lokal

Dalam kesempatan itu, Thobias juga memperkenalkan sejumlah potensi lokal yang dimiliki Kabupaten Sabu Raijua.

Potensi tersebut antara lain pangan lokal seperti gula air dan sorgum, serta sektor garam, rumput laut, dan pariwisata.

Menurutnya, pengalaman mahasiswa selama berada di tengah masyarakat seharusnya dapat membuka perspektif baru mengenai potensi yang dimiliki daerah kepulauan tersebut.