Menurutnya, penelitian mengenai budaya tidak seharusnya berhenti sebatas dokumentasi. Hasil riset perlu diterjemahkan menjadi program pengembangan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Salah satu potensi yang dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan adalah tenun Sabu Raijua.

Thobias menyebut kain tenun Sabu memiliki kekayaan motif, sejarah, serta filosofi yang masih perlu terus digali dan dikembangkan.

“Banyak pihak telah melakukan penelitian mengenai tenun Sabu. Kita dapat melihatnya dari banyaknya motif, ada juga hubi ae dan hubi iki. Sejak dahulu telah terdapat gambar dan motif tenun Sabu yang dapat menjadi bahan referensi. Dokumen atau catatan yang memuat motif tersebut juga masih tersedia,” jelasnya.

Tenun Raijua Dinilai Punya Potensi Besar

Thobias mengatakan setiap wilayah di Sabu Raijua memiliki karakter dan motif tenun yang berbeda.

Ia secara khusus menyoroti potensi tenun dari Kecamatan Raijua yang dinilai memiliki kualitas dan kekayaan motif yang sangat baik.

“Sabu Raijua tidak kalah dengan daerah lain dalam hal tenun dan motif, khususnya tenun dari Kecamatan Raijua. Motif dan kualitasnya juga sudah sangat baik,” katanya.

Menurutnya, hasil penelitian BRIN dapat menjadi salah satu dasar untuk mengembangkan kain tenun adat menjadi produk kreatif yang lebih luas.