Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Fenomena ini juga mengajak kita melihat persoalan yang lebih mendasar, yakni hubungan masyarakat dengan negara. Selama bertahun-tahun, sebagian masyarakat di Nusa Tenggara Timur hidup dalam berbagai keterbatasan pembangunan, ketimpangan akses pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan pelayanan publik. Dalam kondisi demikian, kehadiran negara sering dipersepsikan sebagai anugerah, bukan sebagai pemenuhan hak konstitusional warga negara.
Akibatnya, pekerjaan yang sebenarnya merupakan kewajiban pemerintah seringkali dipandang sebagai jasa pribadi seorang pemimpin. Budaya politik seperti ini mendorong lahirnya patronase, yaitu kecenderungan mengagungkan figur dibandingkan mengawasi institusi.
Padahal dalam negara demokrasi, presiden, gubernur, maupun pejabat publik menjalankan mandat konstitusi, bukan memberikan belas kasihan kepada rakyat. Masyarakat seharusnya menilai pemimpin berdasarkan kualitas kebijakan, akuntabilitas, dan keberpihakan terhadap kepentingan publik, bukan semata-mata melalui simbol penghormatan atau kedekatan budaya.
Oleh karena itu, Masyarakat Nusa Tenggara Timur perlu membangun kesadaran politik yang lebih kritis. Menghormati pemimpin adalah bagian dari budaya, tetapi menjaga independensi adat dan mengawasi kekuasaan merupakan bagian dari tanggung jawab sebagai warga negara.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan