Ende, RakyatNTT.ID – Sebanyak delapan korban gempa bumi M7,7 Nagekeo mendapat perawatan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026).

Kondisi gempa yang cukup kuat membuat pasien di RSUD Ende panik dan takut. Seluruh pasien kemudian dievakuasi sementara ke luar gedung rumah sakit untuk mengantisipasi kemungkinan terjadi guncangan susulan.

Kepala IGD RSUD Ende, Mersi Dari, mengatakan delapan korban yang dirawat mengalami berbagai jenis cedera.

Iklan

Dari delapan korban tersebut, empat orang mengalami luka robek, dua orang mengalami luka lecet, satu orang mengalami cedera kepala, dan satu orang lainnya mengalami patah kaki.

Seluruh korban saat ini masih mendapatkan penanganan dari petugas medis IGD. Tim medis juga melakukan observasi untuk memastikan kondisi masing-masing pasien setelah mengalami dampak gempa.

Pasien RSUD Ende Masih Diobservasi

Sementara itu, delapan korban yang menjalani perawatan di RSUD Ende masih mendapatkan pemantauan medis.

Petugas IGD melakukan observasi terhadap kondisi korban untuk memastikan tidak ada cedera serius yang terlewat setelah gempa.

Evakuasi pasien ke luar gedung rumah sakit dilakukan sebagai langkah antisipasi menyusul kepanikan warga dan potensi terjadinya gempa susulan.

Masyarakat juga diimbau tetap tenang, tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, serta mengikuti arahan resmi dari BMKG, pemerintah daerah, dan petugas kebencanaan.

Gempa Dipicu Aktivitas Sesar Flores

Gempa besar yang mengguncang Flores tersebut dijelaskan BMKG sebagai gempa akibat aktivitas sesar naik busur belakang atau Back Arc Flores.

Dilansir dari iNews.ID, Direktur Informasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, mengatakan gempa tersebut berkaitan dengan aktivitas sesar naik di kawasan Flores.

“Gempa ini adalah aktivitas akibat sesar naik busur belakang atau kita sebut back-arc thrust Flores,” kata Wijayanto dalam konferensi pers secara daring, Sabtu (15/8/2026).

Menurut Wijayanto, potensi kekuatan gempa yang dapat dihasilkan dari aktivitas sesar tersebut mencapai M7,8. Sementara gempa yang terjadi pada Sabtu pagi tercatat M7,7.

Ia berharap gempa M7,7 yang telah terjadi merupakan pelepasan energi maksimal dari aktivitas sesar tersebut.

“Potensinya M7,8 di sana, hari ini rilis 7,7. Ini mudah-mudahan tidak akan terjadi yang potensi yang maksimalnya, ini mudah-mudahan sudah yang maksimal,” ujarnya.

Gempa Susulan Masih Berpotensi Terjadi

BMKG juga mengingatkan masyarakat bahwa gempa susulan masih mungkin terjadi setelah gempa utama.

Namun, Wijayanto menjelaskan bahwa kekuatan gempa susulan diperkirakan akan mengalami peluruhan atau semakin melemah seiring waktu.

“Nanti peluruhannya akan semakin meluruh, semakin kecil,” katanya.

Masyarakat di wilayah terdampak diminta tetap waspada, terutama terhadap bangunan yang mengalami kerusakan akibat guncangan gempa.

BMKG Sempat Keluarkan Peringatan Tsunami

Gempa M7,7 yang berpusat di wilayah Mbay, Nagekeo, juga sempat memicu peringatan dini tsunami.

Berdasarkan hasil pemodelan BMKG, gempa tersebut berpotensi menimbulkan tsunami di sejumlah wilayah, termasuk NTT, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Sulawesi Selatan (Sulsel).

BMKG menetapkan status siaga tsunami di sejumlah wilayah NTT dan Sulsel dengan potensi ketinggian gelombang antara 0,5 hingga 3 meter.

Di NTT, wilayah yang masuk dalam ancaman siaga antara lain Manggarai bagian utara, Ngada bagian utara, Ende, dan Flores. (*/rnc)