Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Waingapu, RakyatNTT.ID – Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Johni Asadoma, menegaskan bahwa gereja merupakan mitra strategis pemerintah dalam membangun masyarakat yang beriman, rukun, damai, sejahtera, dan produktif.
Peran gereja dinilai tidak hanya terbatas pada pelayanan rohani, tetapi juga menjadi kekuatan penting dalam membentuk karakter masyarakat dan mendukung pembangunan daerah.
Penegasan tersebut disampaikan Johni Asadoma saat menghadiri Penutupan Sidang Sinode XLIV Gereja Kristen Sumba (GKS) di Jemaat GKS Nggongi, Klasis Mahu Karera, Kabupaten Sumba Timur, Kamis (9/7/2026) malam.
Dalam sambutannya, Johni menekankan pentingnya gereja mengambil peran aktif dalam membimbing umat meninggalkan budaya-budaya yang tidak lagi produktif melalui nilai-nilai Injil.
Menurutnya, pembentukan karakter masyarakat menjadi fondasi penting bagi kemajuan Nusa Tenggara Timur.
Salah satu persoalan yang disorotinya adalah citra masyarakat NTT di Bali yang sempat menjadi perhatian publik akibat adanya penolakan terhadap sebagian warga asal NTT karena dinilai belum mampu beradaptasi dengan lingkungan setempat.
“Kami bersama pemerintah daerah se-Pulau Sumba telah berkunjung ke Bali pada Januari lalu untuk menyampaikan permohonan maaf sekaligus memberikan pembinaan kepada anak-anak Sumba agar mampu beradaptasi dengan baik di daerah perantauan,” ujarnya.
Menurut Johni, kunjungan tersebut mulai menunjukkan hasil positif. Pemerintah melihat adanya perubahan perilaku masyarakat yang semakin mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.
Ia menilai berbagai persoalan tersebut berakar pada kebiasaan atau budaya yang masih terbawa dari daerah asal. Karena itu, gereja diharapkan terus membina umat agar mampu meninggalkan kebiasaan yang menghambat kemajuan dan menggantinya dengan nilai-nilai kehidupan yang lebih produktif.
“Pelayanan gereja tidak hanya berbicara tentang kehidupan rohani, tetapi juga membentuk karakter dan perilaku masyarakat. Dengan pembinaan yang berkelanjutan, masyarakat akan semakin mampu mengubah kebiasaan yang tidak produktif sehingga dapat hidup berdampingan dengan baik dan membawa nama baik NTT di mana pun berada,” tegasnya.
Gereja Didorong Berperan Atasi Stunting dan Kemiskinan
Selain persoalan karakter masyarakat, Johni Asadoma juga menyoroti masih tingginya angka stunting dan kemiskinan di Nusa Tenggara Timur.
Menurutnya, penyelesaian dua persoalan tersebut tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah. Dibutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk gereja sebagai mitra pembangunan.
Ia juga mengingatkan pentingnya menyelesaikan konflik melalui musyawarah adat dan jalur hukum, bukan dengan kekerasan ataupun perang antarkelompok yang hanya menimbulkan korban serta perpecahan.
“Gereja harus berani mengubah budaya-budaya yang tidak produktif. Nilai budaya yang baik tetap dipertahankan, tetapi budaya yang menghambat kesejahteraan masyarakat harus diubah melalui terang Injil,” katanya.
Di akhir sambutannya, Johni menyampaikan apresiasi kepada Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GKS periode 2022–2026 atas pengabdiannya serta mengucapkan selamat kepada pengurus baru periode 2026–2031.
Ia mengajak seluruh warga Gereja Kristen Sumba mendukung kepemimpinan baru agar pelayanan gereja semakin berdampak bagi masyarakat Pulau Sumba maupun pembangunan NTT secara keseluruhan.
Bupati Sumba Timur Sebut GKS Mitra Strategis Pemerintah
Bupati Sumba Timur, Umbu Lili Pekuwali, turut memberikan apresiasi atas suksesnya penyelenggaraan Sidang Sinode XLIV GKS yang telah menetapkan kepengurusan BPMS GKS periode 2026–2031.
Menurutnya, sidang sinode menjadi momentum penting untuk mengevaluasi pelayanan sekaligus merumuskan arah pelayanan gereja lima tahun ke depan.
“Saya mengucapkan selamat kepada seluruh pengurus BPMS periode sebelumnya yang telah menyelesaikan masa pelayanannya dengan baik. Selamat juga kepada pimpinan yang baru terpilih. Kiranya dapat menjalankan amanah pelayanan dengan penuh tanggung jawab,” ujarnya.
Umbu Lili menegaskan bahwa selama ini GKS telah menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun masyarakat melalui pelayanan keagamaan, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, hingga pelayanan sosial.
Meski demikian, ia mengakui masih banyak tantangan yang dihadapi daerah, mulai dari kemiskinan, stunting, gizi buruk, pendidikan hingga pelayanan kesehatan.
“Kami berharap GKS terus menjadi mitra pemerintah dalam memberikan masukan, pendampingan, dan pelayanan kepada masyarakat demi terwujudnya kesejahteraan bersama,” katanya.
Ketua Sinode Ajak Pengurus Baru Hadirkan Pelayanan Berdampak
Ketua Umum Sinode GKS periode 2022–2026, Pdt. Marlin Lomi, mengungkapkan rasa syukur atas terselenggaranya seluruh rangkaian Sidang Sinode XLIV GKS yang berlangsung sejak 2 hingga 9 Juli 2026.
Ia menyebut masa kepemimpinan selama empat tahun merupakan amanah yang berat sekaligus mulia.
“Kami bersyukur kepada Tuhan karena perjalanan pelayanan selama empat tahun dapat dilalui dengan baik. Ini adalah kepercayaan besar yang telah kami pertanggungjawabkan selama masa pelayanan,” ungkapnya.
Marlin juga berpesan kepada kepengurusan Sinode GKS periode 2026–2031 agar tema dan subtema sidang tidak berhenti sebagai slogan semata, tetapi diwujudkan melalui pelayanan nyata yang mampu menghadirkan transformasi bagi jemaat dan masyarakat.
BPMS GKS Periode 2026–2031 Resmi Ditetapkan
Sidang Sinode XLIV Gereja Kristen Sumba menetapkan jajaran Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GKS periode 2026–2031 sebagai berikut:
- Ketua Umum: Pdt. Yakob Malo Bili
- Sekretaris Umum: Aprianus M. Dj. Uma
- Ketua I: Pdt. Theopilus Mete
- Ketua II: Pdt. Yohanis Woli
Prosesi penutupan Sidang Sinode XLIV GKS ditandai dengan pemukulan gong oleh Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma sebagai simbol berakhirnya seluruh rangkaian persidangan yang berlangsung sejak 2 Juli 2026. (*/rnc)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan