Kupang, RakyatNTT.ID – Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Nusa Cendana (Undana) bersama The Meros Center, Amerika Serikat, meluncurkan hasil penelitian yang menawarkan paradigma baru dalam penanganan stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Hasil riset tersebut dipaparkan dalam seminar diseminasi bertajuk “Understanding the Socio-Cultural and Religious Factors on Stunting Prevalence in East Nusa Tenggara” yang digelar di Aula FISIP Undana, Kupang, Selasa (21/7/2026).

Seminar ini dihadiri akademisi, peneliti, mahasiswa, perwakilan pemerintah, organisasi masyarakat sipil (LSM), hingga masyarakat umum sebagai ruang berbagi hasil penelitian sekaligus memperkuat kolaborasi internasional dalam upaya percepatan penurunan stunting di NTT.

Stunting di NTT Masih Lebih Tinggi dari Rata-Rata Nasional

Dekan FISIP Undana, Prof. Dr. Drs. William Djani, M.Si., mengungkapkan bahwa persoalan stunting masih menjadi tantangan besar bagi Nusa Tenggara Timur.

Mengacu pada data Bank Dunia tahun 2022, prevalensi stunting nasional tercatat sebesar 31,8 persen, sementara angka stunting di NTT masih berada di 33,1 persen pada tahun 2025.

Menurut Prof. William, tingginya angka tersebut menunjukkan bahwa pendekatan yang selama ini digunakan belum sepenuhnya menyentuh akar persoalan.

“Jika dilihat dari perspektif administrasi publik, stunting sebenarnya terjadi karena masalah pada kebijakan publik, baik dari aspek policy formulation maupun policy implementation,” tegasnya.

Ia juga menilai lemahnya koordinasi antar pemangku kepentingan menjadi salah satu penyebab belum optimalnya penanganan stunting.

Penelitian Ungkap 70 Persen Penyebab Stunting Bersifat Non-Medis

Ketua Tim Peneliti Undana, Dr. Yeheskiel A. Roen, M.Si., menjelaskan bahwa penelitian tersebut mengacu pada temuan ilmiah The Lancet (2013) yang menunjukkan bahwa keberhasilan penanganan stunting justru lebih banyak ditentukan oleh faktor non-medis.

Menurutnya, sekitar 70 persen penyebab maupun solusi stunting berasal dari faktor sosial, budaya, ekonomi, lingkungan, dan pola pengasuhan.

Sementara itu, intervensi medis seperti pemberian vitamin, imunisasi, maupun makanan tambahan hanya menyumbang sekitar 30 persen terhadap keberhasilan penanganan.

Ironisnya, kebijakan penanganan stunting di Indonesia selama ini masih lebih banyak berorientasi pada aspek medis.

Untuk memperkuat temuan tersebut, tim peneliti melakukan kajian terhadap 500 artikel ilmiah selama sepuluh tahun terakhir, observasi lapangan dan wawancara di Desa Kesetnana, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), serta Focus Group Discussion (FGD) lintas sektor.

Lima Strategi Baru Penanganan Stunting

Berdasarkan hasil penelitian, Undana bersama The Meros Center merumuskan lima strategi utama yang dinilai lebih efektif dalam menekan angka stunting di NTT.

1. Transformasi Komunitas Belajar

Mendorong keterlibatan keluarga besar (extended family) dalam pola pengasuhan anak karena budaya masyarakat NTT masih sangat mengandalkan peran keluarga besar.

2. Reinterpretasi Budaya Lokal

Mengubah berbagai mitos kesehatan yang masih berkembang di masyarakat, seperti anggapan bahwa kolostrum merupakan “ASI basi”, menjadi pemahaman yang sesuai dengan ilmu kesehatan modern.

3. Penguatan Relasi Gender

Mendorong keterlibatan aktif ayah dalam pengasuhan anak sehingga beban pengasuhan tidak sepenuhnya ditanggung ibu.

4. Penguatan Ketahanan Pangan Rumah Tangga

Mengembangkan konsep 3K (Kandang, Kebun, Kolam) sebagai strategi membangun kemandirian pangan keluarga.

5. Memanfaatkan Jejaring Gereja dan Desa

Mengoptimalkan peran gereja serta lembaga sosial desa sebagai mitra utama dalam edukasi dan pendampingan keluarga.

Peran Gereja Dinilai Sangat Strategis

Field Manager Indonesia untuk Kingdom Workers, organisasi induk The Meros Center, Coral Cady-Metcalfe, mengatakan penelitian tersebut sangat membantu organisasi internasional dalam menentukan bentuk pendampingan yang tepat bagi masyarakat.

“Riset seperti inilah yang membuat perbedaan dan membantu organisasi menentukan cara terbaik dalam mendukung keluarga, baik secara fisik maupun spiritual,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa The Meros Center selama ini fokus pada riset kesehatan masyarakat, pelatihan tenaga pendamping, serta pendampingan keluarga yang memiliki anak berkebutuhan khusus.

Selain itu, organisasi tersebut juga mengembangkan program berbasis WASH (Water, Sanitation, and Hygiene) karena akses air bersih dan sanitasi terbukti berpengaruh langsung terhadap kesehatan anak.

Tokoh Agama jadi Kunci Edukasi Kesehatan

Dalam seminar tersebut, perwakilan The Meros Center, Julia Walters dan Claire Marcus, mengapresiasi hasil penelitian yang dinilai kaya akan perspektif lokal.

Coral menambahkan bahwa keberhasilan penanganan stunting di desa tidak cukup hanya mengandalkan tenaga kesehatan.

Menurutnya, tokoh agama memiliki pengaruh yang sangat besar dalam mengubah perilaku masyarakat.

Pendeta, misalnya, merupakan figur yang dipercaya masyarakat desa sehingga edukasi mengenai pentingnya gizi, sanitasi, dan pengasuhan anak akan lebih mudah diterima apabila disampaikan melalui mimbar gereja.

Dorong Perubahan Kebijakan Penanganan Stunting

Seminar diseminasi tersebut diharapkan menjadi dasar ilmiah bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan penanganan stunting yang lebih sensitif terhadap kondisi sosial dan budaya masyarakat NTT.

Penelitian ini sekaligus mengoreksi paradigma lama yang selama ini terlalu menitikberatkan pada pemberian makanan tambahan, vitamin, atau intervensi medis semata.

Melalui pendekatan berbasis budaya, agama, relasi keluarga, serta penguatan ekonomi rumah tangga, pemerintah kini memiliki peta jalan intervensi yang lebih komprehensif untuk menurunkan angka stunting.

Kolaborasi antara FISIP Undana dan The Meros Center USA diharapkan tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi berlanjut dalam bentuk program pengabdian kepada masyarakat, penyusunan rekomendasi kebijakan, serta implementasi model intervensi berbasis riset di berbagai wilayah Nusa Tenggara Timur.

Dengan pendekatan tersebut, penanganan stunting di NTT tidak lagi hanya berfokus pada aspek kesehatan, tetapi juga menyentuh akar persoalan sosial, budaya, gender, ketahanan pangan, dan peran tokoh agama. Langkah ini diyakini menjadi fondasi penting untuk meningkatkan kualitas hidup serta masa depan anak-anak di Nusa Tenggara Timur. (*/rnc)