Selain diikuti pimpinan fakultas, dosen, dan tenaga kependidikan Undana, kegiatan tersebut juga dihadiri delegasi dari Universitas Timor (Unimor) yang ingin mempelajari implementasi sistem manajemen risiko di lingkungan perguruan tinggi.

Dalam sambutannya, Prof. Jefri Bale menegaskan bahwa mengelola perguruan tinggi dengan lebih dari 35 ribu mahasiswa dan anggaran yang mendekati Rp500 miliar membutuhkan sistem pengendalian risiko yang kuat.

Menurutnya, Undana telah memetakan sedikitnya lima risiko utama yang harus dikelola secara berkelanjutan, yakni risiko akademik, pelayanan mahasiswa, tata kelola keuangan, reputasi institusi, serta risiko hukum.

“Risiko tidak dapat dihindari, tetapi wajib diminimalkan melalui pengukuran dan pengelolaan yang baik. Manajemen risiko harus menjadi budaya yang melekat dalam setiap keputusan di Undana. Kita harus mampu mengenali potensi masalah dan mengukur dampaknya sebelum berkembang menjadi krisis kelembagaan,” tegas Prof. Jefri Bale.

Setiap Pimpinan Unit Menjadi Risk Owner

Ketua SPI Undana, Prof. Chaterina Agusta Paulus, menjelaskan bahwa pelatihan ini tidak berhenti pada penyusunan dokumen administrasi berupa risk register.

Setelah workshop, setiap dekan dan kepala unit diwajibkan menjadi risk owner atau penanggung jawab risiko di unit kerja masing-masing. Mereka bertanggung jawab menyusun strategi mitigasi dan rencana cadangan (Plan B) terhadap berbagai potensi persoalan, mulai dari risiko penurunan akreditasi program studi hingga perlindungan aset universitas.