Jakarta, RakyatNTT.ID – Prestasi membanggakan kembali datang dari Nusa Tenggara Timur (NTT). SMP IL Kapten Fatubaa, sebuah sekolah yang berada di wilayah perbatasan Indonesia–Timor Leste, berhasil meraih Juara Utama AIA Healthiest Schools Competition 2026 tingkat Asia Pasifik berkat inovasi mengolah limbah kulit pisang menjadi berbagai produk bernilai ekonomi.

Penghargaan bergengsi tersebut diumumkan dalam seremoni regional di Bangkok, Thailand, setelah SMP IL Kapten Fatubaa berhasil mengungguli hampir 1.000 proyek dari berbagai negara di kawasan Asia Pasifik.

Keberhasilan itu diraih melalui program Huka Upcycling Project (HUP) yang mengintegrasikan pendidikan lingkungan, kewirausahaan, sains, serta pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan limbah organik menjadi es krim, pupuk kompos, dan pupuk cair.

Program tersebut telah memberikan manfaat bagi lebih dari 1.000 orang, mulai dari siswa, guru, keluarga, petani, hingga masyarakat di kawasan perbatasan.

Satu-satunya Pemenang Regional dari Indonesia

AIA Healthiest Schools Competition merupakan kompetisi pendidikan terbesar di Asia yang mendorong sekolah mengembangkan inovasi dalam empat pilar utama, yakni pola makan sehat, gaya hidup aktif, kesehatan mental, dan keberlanjutan lingkungan.

Memasuki tahun keempat penyelenggaraannya, kompetisi ini mencatat rekor partisipasi tertinggi dengan hampir seribu proposal dari sembilan negara Asia Pasifik.

SMP IL Kapten Fatubaa berhasil keluar sebagai Juara Regional Asia Pasifik, mengharumkan nama Indonesia sekaligus Nusa Tenggara Timur di tingkat internasional.

Head Judge AIA Healthiest Schools Competition sekaligus AIA Group Chief Marketing Officer, Stuart A. Spencer, mengatakan kompetisi tersebut menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengubah pengetahuan menjadi aksi nyata.

“Selamat kepada pemenang regional kami, SMP IL Kapten Fatubaa dari Indonesia, serta para pemenang kategori lainnya. Kisah inspiratif kalian akan menginspirasi lebih banyak generasi muda di seluruh Asia dalam mewujudkan masa depan yang lebih sehat,” ujarnya, Kamis (9/7/2026).

Dari Kulit Pisang Menjadi Produk Bernilai

Kesuksesan SMP IL Kapten Fatubaa bermula dari persoalan sederhana yang dihadapi sekolah, yakni banyaknya limbah kulit pisang dari Program Gerakan Makan Sehat.

Alih-alih dibuang, limbah tersebut diolah menjadi tiga produk inovatif melalui Huka Upcycling Project (HUP), yaitu:

  • Huka Ice Cream
  • Huka Compost Fertiliser
  • Huka Liquid Fertiliser

Nama “Huka” sendiri berasal dari bahasa Tetun, Hudi Kakun, yang berarti kulit pisang.

Dengan mengusung semangat “From Waste to Wonder”, proyek ini mengajarkan siswa bahwa limbah dapat diubah menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus ramah lingkungan.

Sekolah di Daerah Terpencil yang Menginspirasi Dunia

Prestasi ini semakin istimewa karena SMP IL Kapten Fatubaa berada di wilayah perbatasan terpencil di Desa Fatubaa, Kabupaten Belu.

Setiap hari para siswa harus menempuh perjalanan sekitar 12 kilometer melewati jalan berbatu dan menyeberangi sungai selebar 48 meter tanpa jembatan demi mengikuti proses belajar mengajar.

Selain keterbatasan infrastruktur, sekolah juga menghadapi tantangan berupa minimnya akses air bersih, rendahnya literasi lingkungan, hingga pengelolaan sampah yang belum optimal.

Kondisi tersebut justru melahirkan inovasi yang kini mendapat pengakuan internasional.

Pendidikan, Lingkungan, dan Kewirausahaan Berjalan Bersama

Program HUP tidak hanya mengajarkan siswa mengolah limbah, tetapi juga mengintegrasikan pembelajaran sains, Bahasa Indonesia, kewirausahaan, hingga ekonomi sirkular.

Pelaksanaannya dilakukan melalui enam program strategis dan 20 kegiatan, mulai dari sosialisasi, sistem donasi kulit pisang berbasis barter, pelatihan produksi, hingga pengujian laboratorium terhadap hasil produk.

Kini produk-produk HUP telah dipasarkan melalui dapur sekolah, NTT Mart, koperasi lokal, hingga dimanfaatkan oleh para petani di wilayah perbatasan.

Program tersebut turut melibatkan siswa, guru, orang tua, masyarakat Timor-Leste, pelaku usaha, serta petani lokal sehingga dampaknya dirasakan secara luas.

Guru: Penghargaan bukan Tujuan Akhir

Guru SMP IL Kapten Fatubaa, Antonius Kapitan, mengaku tidak menyangka sekolahnya mampu menjadi juara tingkat Asia Pasifik.

Menurutnya, fokus utama sekolah sejak awal bukan mengejar penghargaan, melainkan menciptakan manfaat nyata bagi siswa dan masyarakat.

“Kami para guru terutama para siswa hanya berusaha yang terbaik. Kami berusaha mengubah kulit pisang menjadi produk seperti es krim, pupuk cair, dan pupuk kompos,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa sekolah akan terus mengembangkan program tersebut agar manfaatnya semakin luas.

“Kami punya tugas melanjutkan proyek ini karena tujuan kegiatan ini bukan untuk memenangkan penghargaan, tetapi untuk masa depan para siswa dan komunitas di sekitar kami.”

Raih Hadiah Rp650 Juta untuk Pengembangan Sekolah

Sebagai Juara Utama Regional Asia Pasifik, SMP IL Kapten Fatubaa memperoleh hadiah sebesar USD40.000 atau sekitar Rp650 juta, yang akan digunakan sepenuhnya untuk memperkuat program kesehatan dan kesejahteraan di sekolah.

Ke depan, sekolah menargetkan memperoleh sertifikasi BPOM, mengembangkan hak paten produk, memperluas implementasi Huka Upcycling Project ke sekolah-sekolah lain, serta memperkuat kolaborasi dengan pemerintah dan berbagai mitra lintas negara.

Prestasi ini menjadi bukti bahwa sekolah di daerah perbatasan dengan keterbatasan fasilitas mampu melahirkan inovasi berkelas dunia. Melalui kreativitas, pendidikan, dan kepedulian terhadap lingkungan, SMP IL Kapten Fatubaa berhasil mengubah limbah menjadi sumber manfaat sekaligus mengangkat nama Indonesia di panggung internasional. (*/rnc)