Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Jakarta, RakyatNTT.ID – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada penutupan perdagangan Rabu (8/7/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah 34 poin menjadi Rp18.014 per dolar Amerika Serikat (AS), dari posisi sebelumnya Rp17.980 per dolar AS.
Pelemahan rupiah dipicu kombinasi sentimen global dan domestik. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran, memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi dunia.
Di saat yang sama, kondisi fiskal Indonesia yang mencatat defisit APBN Semester I-2026 turut memberikan tekanan terhadap pergerakan mata uang nasional.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan eskalasi konflik di kawasan Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan global.
Menurutnya, situasi semakin memanas setelah Amerika Serikat menarik konsesi penjualan minyak Iran dan melancarkan serangkaian serangan sebagai respons terhadap gangguan terhadap pelayaran komersial.
“Komando Pusat AS (Centcom) mengatakan telah memulai serangkaian serangan terhadap Iran yang bertujuan memberikan biaya berat atas serangan Teheran terhadap pelayaran komersial,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis, Rabu (8/7/2026).
Ia menambahkan, kembali meningkatnya permusuhan di kawasan Timur Tengah membuat pasar kembali mengkhawatirkan terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia.
Selain faktor geopolitik, Ibrahim menilai kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat juga menjadi penyebab melemahnya mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun tercatat naik 5,5 basis poin menjadi 4,525 persen. Kondisi tersebut mendorong investor mengalihkan dana ke aset berdenominasi dolar AS yang dinilai lebih aman.
Di sisi lain, pelaku pasar juga masih menunggu rilis notulen rapat Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Juni untuk mendapatkan gambaran arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.
Defisit APBN Tambah Tekanan
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari kondisi fiskal pemerintah. APBN Semester I-2026 tercatat mengalami defisit sebesar Rp196,5 triliun.
Menurut Ibrahim, pelemahan nilai tukar rupiah menyebabkan belanja pemerintah meningkat lebih cepat dibandingkan penerimaan negara. Kondisi tersebut mempersempit ruang fiskal pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi.
Meski demikian, ia menilai Indonesia masih memiliki bantalan yang cukup kuat melalui posisi cadangan devisa.
Cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 meningkat menjadi US$145,6 miliar, didukung oleh penerimaan pajak dan jasa, meskipun pemerintah tetap melakukan pembayaran utang luar negeri serta intervensi pasar valuta asing.
Bank Indonesia menilai posisi tersebut masih berada pada level yang aman karena setara dengan pembiayaan sekitar 5,5 bulan impor, atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional.
Cadangan devisa tersebut dinilai mampu menjaga ketahanan sektor eksternal sekaligus menopang stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional di tengah tingginya ketidakpastian global.
Rupiah Diprediksi Masih Fluktuatif
Untuk perdagangan Kamis (9/7/2026), Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih akan dibayangi berbagai sentimen eksternal, terutama hasil notulen rapat FOMC yang akan menjadi acuan pelaku pasar dalam membaca arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Ia memprediksi rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp18.010 hingga Rp18.060 per dolar AS.
Menurutnya, selama ketidakpastian geopolitik dan ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed masih tinggi, tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, diperkirakan belum akan mereda. (*/rnc)





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan