Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan jalur pelayaran di Selat Hormuz tetap terbuka di bawah perlindungan militer AS. Meski demikian, aktivitas pengiriman komersial dilaporkan melambat tajam sehingga memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak global.
Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi ekspor minyak mentah dari Arab Saudi, Irak, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan sejumlah negara produsen minyak di kawasan Teluk.
Gangguan yang berkepanjangan dikhawatirkan akan mendorong kenaikan harga energi, meningkatkan biaya pengiriman dan asuransi, serta memperbesar tekanan inflasi global.
Pasar Menanti Keputusan The Fed
Kenaikan harga energi juga memunculkan ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.
Risalah rapat The Fed pada Juni lalu menunjukkan sebagian pembuat kebijakan masih membuka peluang kenaikan suku bunga karena tekanan inflasi dinilai belum sepenuhnya mereda, meskipun kondisi pasar tenaga kerja mulai membaik.
Pasar kini menantikan hasil rapat Federal Reserve yang dijadwalkan berlangsung pada 28–29 Juli 2026, yang diperkirakan akan menjadi salah satu penentu arah pergerakan mata uang global.
Sentimen Domestik Ikut Menekan Rupiah
Selain faktor eksternal, Ibrahim menilai pelemahan rupiah juga dipengaruhi meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi penegakan hukum di Indonesia.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan