Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Jakarta, RakyatNTT.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan dan ditutup melemah ke level Rp18.128 per dolar AS pada perdagangan Kamis (9/7/2026).
Berdasarkan data perdagangan, rupiah terkoreksi 114 poin atau 0,63 persen dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp18.014 per dolar AS. Pelemahan ini memperpanjang tren depresiasi mata uang Garuda yang kembali menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang masih membebani pasar keuangan.
Konflik AS-Iran Kembali Memanas
Menurut Ibrahim, faktor eksternal terbesar berasal dari meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Situasi memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan lanjutan terhadap Iran menyusul insiden serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz.
Amerika Serikat menyebut operasi militernya sebagai respons atas serangan terhadap tiga kapal tanker yang melintas di jalur pelayaran strategis tersebut.
Sebagai balasan, Iran mengklaim telah menyerang sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait.
Eskalasi konflik tersebut memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi minyak terpenting di dunia.
Selain itu, sejumlah perusahaan asuransi pelayaran dikabarkan mulai meminta operator kapal menunda pelayaran melalui kawasan tersebut akibat meningkatnya risiko keamanan.
Sikap The Fed Picu Kekhawatiran Pasar
Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati hasil risalah rapat Federal Reserve (The Fed) bulan Juni yang menunjukkan bank sentral Amerika Serikat masih terbagi dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
Menurut Ibrahim, risalah tersebut memperlihatkan meningkatnya kekhawatiran para pejabat The Fed terhadap inflasi yang masih bertahan tinggi.
Kondisi itu membuka peluang kenaikan suku bunga kembali apabila tekanan inflasi belum mereda hingga akhir tahun.
Inflasi Amerika Serikat sendiri disebut meningkat sejak konflik AS-Iran pecah pada akhir Februari, sehingga target inflasi tahunan sebesar 2 persen masih sulit dicapai.
APBN 2026 dan Belanja Pemerintah jadi Sorotan
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai percepatan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Semester I 2026 juga menjadi salah satu sentimen yang memengaruhi pergerakan pasar.
Pemerintah tetap menjadikan APBN sebagai instrumen utama untuk mendukung delapan agenda prioritas nasional, di antaranya:
- Penguatan ketahanan pangan.
- Penguatan ketahanan energi.
- Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
- Peningkatan kualitas pendidikan.
- Penguatan layanan kesehatan.
- Pembangunan desa.
- Pemberdayaan koperasi dan UMKM.
- Penguatan pertahanan serta percepatan investasi dan perdagangan global.
Di sisi lain, APBN tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas ekonomi, meningkatkan produktivitas nasional, dan memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Keyakinan Konsumen Turun Dua Bulan Berturut-turut
Sentimen domestik lainnya datang dari hasil Survei Konsumen Bank Indonesia yang menunjukkan penurunan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional.
Pada Juni 2026, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) tercatat berada di level 117,8, turun dibandingkan Mei 2026 yang mencapai 120,9, serta jauh lebih rendah dibanding Januari 2026 yang berada di level 127,0.
Meski demikian, Bank Indonesia menegaskan kondisi psikologis masyarakat masih tergolong optimistis karena nilai IKK tetap berada di atas ambang batas 100, yang menjadi indikator optimisme konsumen.
Rupiah Diproyeksi Masih Berfluktuasi
Ibrahim memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut pada perdagangan berikutnya seiring tingginya ketidakpastian global dan respons pasar terhadap berbagai perkembangan ekonomi.
Menurutnya, pergerakan rupiah pada perdagangan Jumat diperkirakan tetap fluktuatif dengan kecenderungan melemah.
“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp18.120 hingga Rp18.180 per dolar AS,” ujar Ibrahim.
Pelemahan rupiah menjadi perhatian pelaku pasar karena dipengaruhi kombinasi faktor global, mulai dari meningkatnya risiko geopolitik, kebijakan moneter Amerika Serikat, hingga dinamika ekonomi domestik yang masih menghadapi tantangan pada paruh pertama tahun 2026. (*/rnc)





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan