Gereja tentu harus kuat dalam ibadah, liturgi, pengajaran iman, dan tata organisasi. Tetapi gereja juga harus kuat dalam keberpihakan. Gereja tidak boleh hanya hadir di mimbar, tetapi juga di kebun jemaat, di pasar, di rumah keluarga miskin, di ruang belajar anak-anak, di padang penggembalaan, di kampung adat, di pesisir, di wilayah yang mengalami kekeringan, dan di tengah masyarakat yang sedang kehilangan harapan.

Merawat kehidupan dalam kasih Kristus berarti gereja dipanggil untuk melihat manusia secara utuh. Umat bukan hanya jiwa yang perlu diselamatkan, tetapi juga tubuh yang perlu diberi makan, pikiran yang perlu dididik, budaya yang perlu dihargai, tanah yang perlu dijaga, dan masa depan yang perlu dipersiapkan. Injil tidak boleh dipersempit hanya menjadi urusan surga, tetapi harus menjadi kabar baik yang menyentuh kehidupan hari ini.

Dalam konteks Sumba, panggilan merawat kehidupan memiliki makna yang sangat konkret. Banyak jemaat hidup dari pertanian, peternakan, tenun, usaha kecil, dan pekerjaan harian yang tidak selalu memberi kepastian. Banyak keluarga gereja masih berjuang membiayai pendidikan anak.

Banyak pemuda gereja memiliki semangat, tetapi tidak punya ruang, modal, dan pendampingan untuk berkembang. Banyak perempuan menopang ekonomi keluarga, tetapi belum ditempatkan sebagai subjek strategis dalam pelayanan gereja. Banyak kampung menghadapi perubahan lingkungan, krisis air, kerusakan tanah, dan tekanan pembangunan yang tidak selalu berpihak pada masyarakat kecil.