Ia berkomitmen mengawal aspirasi masyarakat agar pembangunan ketiga jembatan tersebut memperoleh dukungan anggaran dari pemerintah pusat.

Menurutnya, pembangunan kembali Jembatan Kalunan sudah menjadi kebutuhan mendesak karena Kali Kalunan merupakan salah satu sungai terbesar di Kabupaten Alor setelah Kali Lembar dan Kali Buraga.

Saat musim hujan, debit air yang tinggi kerap memutus akses transportasi masyarakat secara total.

Warga Sudah Menunggu Hampir Lima Tahun

Tokoh muda Mataru, Noh Onisimus Malaikari, mengatakan masyarakat telah menanti pembangunan jembatan sejak hanyut diterjang Badai Seroja pada 2021.

Ia menyebut Kali Kalunan bersumber dari sebelas mata air sehingga aliran sungainya sangat deras ketika hujan turun.

“Masyarakat sangat kesulitan ketika musim hujan. Kali Kalunan ini berasal dari 11 mata air, sehingga ketika hujan turun aktivitas masyarakat praktis lumpuh,” katanya.

Menurut Onisimus, terputusnya akses jalan berdampak langsung terhadap pelayanan kesehatan maupun pendidikan.

Warga kesulitan membawa pasien ke puskesmas, ibu hamil tidak dapat segera dirujuk untuk melahirkan, sementara siswa SMP dan SMA sering kali tidak bisa berangkat ke sekolah karena akses menuju desa terendam banjir.

Desa Lakatuli Masih Belum Nikmati Listrik PLN

Selain persoalan jembatan, Onisimus juga menyoroti belum masuknya layanan listrik PLN ke Desa Lakatuli.