Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Pernyataan Sikap Mantan Relawan BaraJP (Barisan Relawan Jokowi Presiden)
Saya adalah bagian dari BaraJP (Barisan Relawan Jokowi Presiden) yang sejak 2013 berada di garis depan memenangkan Joko Widodo di Nusa Tenggara Timur.
Bersama rekan-rekan relawan, saya mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan nama baik untuk meyakinkan rakyat bahwa Jokowi adalah harapan baru bagi demokrasi Indonesia.
Pada tahun 2018, saya bersama kawan-kawan menyelenggarakan Rakornas BaraJP di Rote Ndao yang dihadiri langsung oleh Joko Widodo. Menurut pandangan saya, momentum itu menjadi salah satu bagian dari kerja politik yang ikut memperkuat kemenangan Jokowi di NTT pada Pilpres 2019.
Saya masih ingat bagaimana setiap kedatangan Jokowi ke NTT kami sambut dengan semangat yang luar biasa. Kami memperlakukannya dengan penghormatan yang begitu tinggi; dalam perasaan saya saat itu, seolah-olah Tuhan sendiri datang mengunjungi NTT.
Begitu besar keyakinan dan harapan yang kami letakkan pada sosok yang kami percaya akan menjaga demokrasi dan kepentingan rakyat.
Hari ini, saya menyesali kepercayaan itu.
Dalam penilaian saya, di penghujung masa kekuasaannya, Jokowi tidak lagi mencerminkan harapan yang dahulu kami perjuangkan. Saya melihat arah politik yang berkembang justru membuat saya mempertanyakan komitmen terhadap demokrasi, etika kekuasaan, dan semangat reformasi.
Sebagai mantan relawan Jokowi, saya merasa perjuangan kami telah disia-siakan. Kami tidak berjuang untuk melahirkan politik yang, menurut penilaian saya, justru menimbulkan kesan bahwa kepentingan kekuasaan ditempatkan di atas kualitas demokrasi.
Hari ini rakyat sedang menghadapi berbagai kesulitan. Karena itu, menurut saya, yang dibutuhkan bukan lagi pencitraan politik atau manuver untuk menjaga popularitas, melainkan sikap kenegarawanan, tanggung jawab moral, dan dukungan nyata terhadap pemerintahan yang sedang menghadapi berbagai tantangan.
Saya tidak akan diam hanya karena pernah menjadi relawan. Kesetiaan kepada demokrasi harus lebih besar daripada kesetiaan kepada seorang tokoh. Ketika saya menilai demokrasi mengalami kemunduran, maka berbicara adalah kewajiban moral.
Jokowi, stop pencitraan. Rakyat lagi susah. Dengarkan suara rakyat, bukan tepuk tangan kekuasaan. (*)





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan